Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Sepatu (Sebuah Balasan)

Gambar
Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu Kita mati bagai tak berjiwa, bergerak karena kaki manusia 
Seseorang dengan inisial tak asing, hampir setiap malam merekues lagu yang sama di radio. Seperti dia tahu gue selalu mendengarkan frekuensi yang mana, seperti dia selalu tahu gue pulang kerja jam berapa, seperti dia selalu tahu gue akan menunggu dan mendengarkan lagu yang ia pesan hingga akhir.
Gue takut menerka, gue takut benar.

Aku sang sepatu kanan, kamu sang sepatu kiri 
Gue tahu siapa sosok di balik nama tidak sebenarnya itu. Dia adalah Sang Sepatu Kanan, maka gue adalah Sang Sepatu Kiri. Dia, seseorang yang sedang dekat dan memang paling bisa memahami gue, lebih dari yang gue tahu. Seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan gue. Tidak hanya dengan matanya, namun juga dalam telinga dan suara. Seseorang yang mampu membaca bahasa tubuh ini. Seseorang yang mengingat—bahkan hal tak penting, apapun yang pernah gue ucapkan. Seseorang yang bisa tahu keadaan gue ha…

huruf kecil 8 (mengikhlaskan perpisahan)

Gambar
terkadang, aku bertanya-tanya. harus berapa kali kulewati perpisahan yang hebat, agar aku dapat bersegera ikhlas untuk menghadapi perpisahan-perpisahan selanjutnya?
rasanya seperti.. pasti ada yang salah dengan pemahamanku, karena tiap kali mengalami perpisahan, aku merasa sedih yang hampa. aku ingin mengubah sesuatu, yang dengannya aku mampu melihat dari perspektif berbeda tentang perpisahan. sudut yang membuka mataku bahwa perpisahan tidak perlu semenyakitkan itu. sisi yang memperlihatkanku bidang lain atas perpisahan, agar aku mudah menerima lalu pulih.
pernah berpikir labil untuk tak sering bertemu orang baru saja, karena kupikir, semakin banyak mengenal orang baru maka semakin sering perpisahan akan terjadi. walau rasanya juga terlalu egois bisa hidup tak berpisah dengan mereka. maka aku sering bertanya-tanya, bagaimana, jika, seandainya, kita bisa mengetahui, sejak awal, dengan siapa kita akan menjalani hidup hingga akhir waktu? menjalani hari-hari bersama, setiap hari. mungkin…

Saya-Aku-Gue-Fifin-Ane

Gambar
Setelah gue baca-baca ulang postingan di blog ini, kebanyakan ungkapan yang gue pake itu ‘aku’ dan ‘kamu/kau’. Ngga salah sih, ngga jauh beda juga sebenernya sama apa yang sering gue pake di kehidupan nyata—jadi sekarang gue lagi di dunia maya gitu, tapi masih nyata juga. Nah, padahal nih yah, fyi aja, gue kalau di kehidupan sehari-hari ngomongnya ngga selalu pake aku-kamu. Sometimes pakai saya—kalau sama orang yang lebih tua atau dalam suasana formal, sometimes juga langsung nyebut nama sendiri, ‘Fifin/Zulfin’—biasanya kalau sama orang-orang yang level deketnya di atas rata-rata, misalnya keluarga. Sering juga pake ‘ane’, itu biasanya kalo habis maen di forumKaskus atau juga ODOJ—yang biasanya bakal keterusan, biasanya juga dipake kalo lagi ngobrol sama orang-orang yang uda deket. Sebut aja satu tingkat lebih slang dari penggunaan kata ‘aku’. Wkwk. Nah kadang juga pake gue—kalo ini biasanya sama sahabat-sahabat yang uda kentel banget. Haha. But, mostly, gue emang lebih sering pake ka…

Nyaman

Gambar
Aku selalu percaya, setiap nyaman memiliki porsinya masing-masing. Itu tentang dengan siapa, di mana, dan bagaimana rasa nyaman itu terbentuk.
Aku percaya, hanya orang tertentu yang memiliki kadar nyaman sesuai denganku, pun bisa kuterima.

Aku percaya, nyaman adalah kolaborasi dari momen yang ada.
Maka jika suatu hari nanti, nyaman itu menjadi berbeda, mungkin itu karena porsi nyaman yang kuterima sudah cukup dan hanya sebatas itu saja. Tidak berkurang, hanya jika berlebih justru menjadi perpaduan yang meresahkan.
Mungkin memang sudah waktunya, mengiklaskan nyaman untuk nyaman yang lebih baik.


..walau kau tahu, terluka tidak pernah menyenangkan



Yogyakarta



Zulfin Hariani
010820161630