huruf kecil 8 (mengikhlaskan perpisahan)


terkadang, aku bertanya-tanya. harus berapa kali kulewati perpisahan yang hebat, agar aku dapat bersegera ikhlas untuk menghadapi perpisahan-perpisahan selanjutnya?

rasanya seperti.. pasti ada yang salah dengan pemahamanku, karena tiap kali mengalami perpisahan, aku merasa sedih yang hampa. aku ingin mengubah sesuatu, yang dengannya aku mampu melihat dari perspektif berbeda tentang perpisahan. sudut yang membuka mataku bahwa perpisahan tidak perlu semenyakitkan itu. sisi yang memperlihatkanku bidang lain atas perpisahan, agar aku mudah menerima lalu pulih.

pernah berpikir labil untuk tak sering bertemu orang baru saja, karena kupikir, semakin banyak mengenal orang baru maka semakin sering perpisahan akan terjadi. walau rasanya juga terlalu egois bisa hidup tak berpisah dengan mereka. maka aku sering bertanya-tanya, bagaimana, jika, seandainya, kita bisa mengetahui, sejak awal, dengan siapa kita akan menjalani hidup hingga akhir waktu? menjalani hari-hari bersama, setiap hari. mungkin aku akan memilih untuk cepat-cepat menemuinya agar waktu bersama dia menjadi lebih lama. kemudian tidak terlalu menggubris orang-orang yang hanya lalu-lalang saja di hidup ini.

terdengar tidak logis.

karena selama ini, ketika bertemu seseorang baru yang menyenangkan, aku selalu bertindak seperti memang dialah orang yang akan bersamaku hingga seterusnya. aku selalu bertindak seperti, memang dialah orang yang harus diperlakukan dengan baik. aku selalu bertindak seperti, memang dialah orang yang harus aku jaga perasaannya so that i’ll treat them well.

sekarang, aku sedang di ambang perpisahan, lagi. sedih? iya banget. saking sedihnya, aku jadi berpikir. apakah pemahamanku tentang ‘bagaimana cara mengubah perspektif agar berpikir tentang perpisahaan dapat disegerakan pemulihannya’, itu salah? apakah aku memang seharusnya seketika baik-baik saja? ataukah membiarkan diri terbawa suasana?

sejatinya, sehebat apapun rasa sakit atas perpisahan, ternyata, tidak akan pernah bisa disamakan. tidak bisa dikendalikan dengan jurus yang sama. tidak bisa dibentuk dari pola perpisahan-perpisahan sebelumnya. setiap merasakan perpisahan, itu adalah perpisahan yang baru. perpisahan yang levelnya berbeda. perpisahan yang bisa dijalani karena berhasil membentuk diri atas perpisahan-perpisahan sebelumnya.

aku yang mengalami perpisahan hari ini, adalah aku yang telah berhasil melewati perpisahan-perpisahan sebelumnya. aku yang bersedih hari ini adalah aku yang terbentuk dari rasa sakit atas perpisahan yang hebat sebelum-sebelumnya. orang-orang yang berpisah denganku saat ini adalah, orang-orang yang melihatku tumbuh menjadi orang baru atas perpisahan-perpisahanku sebelumnya. mereka ada setelah aku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. dan aku merasa beruntung bertemu dengan mereka, ketika masing-masing kita telah menjadi orang yang baru, di depan masa lalu.

perpisahan membentukku. perpisahan membuatku banyak merenung. perpisahan membuatku menemukan diriku yang baru.





taman batu hi, umy


zulfin hariani
170820161528


Komentar

  1. Perpisahan (mungkin) akan selalu menyakitkan jika diri yang merasa berpisah tersebut sangat 'merasa' berpisah sesungguhnya. Haha maybe butuh dibaca berulang-ulang untuk memahami kalimat tersebut. Tetapi, coba aja kita berpikir ulang. Pernah ngga kita sangat 'merasa' berpisah ketika lulus dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan mungkin ketika lulus kuliah. Ketika lulus dari TK, SD, SMP kita (mungkin) masih belum terlalu sangat 'merasa' berpisah karena (mungkin) kita terlalu bahagia membayangkan berada di kehidupan selanjutnya (ex: SMA dst), hingga kita melupa bahwa berpisah pada waktu itu adalah hal yang tidak penting, bahkan tidak terpikirkan. Bisa jadi mungkin terpikirkan ketika sudah pada titik dewasa, dimana sering terdengar kalimat "enak ya ketika masih kecil dulu, bisa melakukan A, B, C", dan semua itu dikenang ketika sudah menjadi kenangan (*halah).

    Intinya, in my opinion, perpisahan akan menjadi perpisahan yang sebenarnya (dalam artian: hal yang menyakitkan) ketika kita sangat 'merasa' bahwa perpisahan itu terjadi. Tetapi jika berpikir positif bahwa perpisahan itu adalah media menjadi orang yang baru, maka perpisahan itu sejatinya tidak menyakitkan.

    And I agree with ur statement "orang-orang yang berpisah denganku saat ini adalah, orang-orang yang melihatku tumbuh menjadi orang baru atas perpisahan-perpisahanku sebelumnya. mereka ada setelah aku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. dan aku merasa beruntung bertemu dengan mereka, ketika masing-masing kita telah menjadi orang yang baru, di depan masa lalu."

    BalasHapus
    Balasan
    1. okray, i got the point :)

      'merasa'

      nah, itu yang aku coba sampaikan dengan kalimat: "setiap merasakan perpisahan, itu adalah perpisahan yang baru. perpisahan yang levelnya berbeda."

      semakin tinggi level, kita terbentuk untuk semakin 'merasa'.

      then, this statment: "orang-orang yang berpisah denganku saat ini adalah, orang-orang yang melihatku tumbuh menjadi orang baru atas perpisahan-perpisahanku sebelumnya."

      wkwk

      this part of your comment that i wanna highlight, sist : "Tetapi jika berpikir positif bahwa perpisahan itu adalah media menjadi orang yang baru, maka perpisahan itu sejatinya tidak menyakitkan."

      nah, perspektif macam itu yang mau aku tanamin ke diri ini. agar lebih mudah 'pulih'. but, finally, aku malah nemu pemahaman kalo tiap perpisahan itu emang ga bisa disamain dengan jurus yang sama. tidak bisa dibentuk dari pola perpisahan-perpisahan sebelumnya. setiap merasakan perpisahan, itu adalah perpisahan yang baru. perpisahan yang levelnya berbeda. perpisahan yang bisa dijalani karena berhasil membentuk diri atas perpisahan-perpisahan sebelumnya.

      gitu, mbak.
      thank's for visit :)

      Hapus
  2. Waw amazing opinion!

    Sangat setuju dengan kalimat "semakin tinggi level, kita terbentuk untuk semakin 'merasa'". Please CMIIW my statement : "semakin 'merasa' manusia, maka manusia tersebut semakin membutuhkan usaha lebih besar untuk berbesar hati atas semua 'penolakan-penolakan hidup'". Lalu bagaimana menurut Mbaa untuk mengatasi hal tersebut? Karena sejatinya kita selalu terjebak, sangat benar 'semakin tinggi level maka semakin merasa', namun terkadang sulit untuk keluar dari 'kemerasaan' itu.

    Dan, aku mau bertanya lagi, bagaimana cara menemukan jurus baru lainnya untuk menghadapi perpisahan yang oke levelnya lebih tinggi dari sebelumnya?

    Wokray sama-sama, Mbaa :D

    BalasHapus

Posting Komentar