Sepatu (Sebuah Balasan)



Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu 
Kita mati bagai tak berjiwa, bergerak karena kaki manusia 

Seseorang dengan inisial tak asing, hampir setiap malam merekues lagu yang sama di radio. Seperti dia tahu gue selalu mendengarkan frekuensi yang mana, seperti dia selalu tahu gue pulang kerja jam berapa, seperti dia selalu tahu gue akan menunggu dan mendengarkan lagu yang ia pesan hingga akhir.

Gue takut menerka, gue takut benar.

Aku sang sepatu kanan, kamu sang sepatu kiri 

Gue tahu siapa sosok di balik nama tidak sebenarnya itu. Dia adalah Sang Sepatu Kanan, maka gue adalah Sang Sepatu Kiri. Dia, seseorang yang sedang dekat dan memang paling bisa memahami gue, lebih dari yang gue tahu. Seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan gue. Tidak hanya dengan matanya, namun juga dalam telinga dan suara. Seseorang yang mampu membaca bahasa tubuh ini. Seseorang yang mengingat—bahkan hal tak penting, apapun yang pernah gue ucapkan. Seseorang yang bisa tahu keadaan gue hanya dari suara di telepon.

Ku senang bila diajak berlari kencang, tapi aku takut kamu kelelahan 
Ku tak masalah bila terkena hujan, tapi aku takut kamu kedinginan 

Dia adalah seseorang yang datang setelah gue melalui banyak fase dalam hidup ini. Dia menemukan gue dalam kesederhanaan, setelah gue lelah tidak menjadi diri sendiri. Dia mau menerima kepolosan dan masa lalu gue. Dia selalu mendukung, paham, dengan situasi yang tengah gue hadapi. Seandainya dia tahu, bahwa gue tak pernah merasa kelelahan walau diajak berlari kencang, pun tak pernah merasa benar-benar dingin bila terkena hujan. Selama itu bersama dia, Sang Sepatu Kanan, tak masalah, rasa nyaman lebih menang.

Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa 
Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa 

Gue pikir, malam ini tidak ada lagi seorang Romeo Gadungan yang merekues lagu seperti biasanya. Pasca makan malam tak biasa beberapa waktu lalu,

I want you to kill that feeling!” ujar gue.

“Kenapa?”

Because I don’t want to hurt you” ujar gue lagi, pelan.

Gue tahu dia belum sembuh terlalu lama, dari masa lalu. Rutinitas menjebak yang ia coba nikmati bersama gue pun, pastilah terjadi di luar kendalinya. Tapi seharusnya, dia juga paham. Di sini, guelah yang belum sembuh benar. Gue belum sembuh total. Bukannya gue tidak menikmati waktu-waktu yang telah kita lewati. Saling tebak, saling goda, saling menerka. Ada bahagia bercampur rasa penasaran yang tidak gue mengerti di sana. Selalu begitu.

Pandangan kami bertemu, tak sengaja. Di antara denting sendok dan garpu, sebenarnya, gue tidak ingin merusak selera makannya. Ada rasa menyesal dengan apa yang telah gue ucapkan. Gue memalingkan wajah ketika dia menatap lama, gue tahu dia tengah menduga. Memang benar, gue malu luar biasa.

“Trus lo mau gue gimana? Mau gue pergi? Gue ngilang?” tanyanya.

Sekarang, gue benar-benar menyesal dengan ucapan bodoh yang telah gue ucapkan sejak awal. Gue menggeleng pelan, mencoba memecah keheningan.

“Yaudah, gak usah dibahas lagi. Tuh lanjutin makannya aja,” sambungnya cepat.

Entah, gue patuh. Maka gue mulai memasukkan suap demi suap. Logika  gue berkata bahwa, tidak ada persahabatan yang tetap menjadi baik-baik saja setelah (jika) gagal dalam menjalin hubungan satu tingkat di atasnya. Itu pernah terjadi. Sedangkan perasaan gue berkata bahwa, gue nyaman dan kembali menemukan tinta yang sesuai untuk menulis di lembar yang baru. Gue sungguh tidak ingin menyakitinya—walau gue juga tersakiti—dengan bias benturan logika dan perasaan ini.

Terasa lengkap bila kita berdua, terasa sedih bila kita di rak berbeda 
Di dekatmu kotak bagai nirwana, tapi saling sentuh pun kita tak berdaya 

Tidak bisa dipungkiri, rutinitas bersama dia adalah kebiasaan yang menyenangkan. Gue merasa lengkap, tak peduli dimana dan kekonyolan apa yang berlalu-lalang di hadapan kita. Walau gue juga paham, tetap ada spasi di antara kita yang menjadikan segala ingin menjadi tak berdaya.

Seandainya dia tahu, tidak mudah untuk gue membuka pintu lagi karena engselnya telah patah entah sejak kapan. Seandainya dia tahu, gue yang dia temukan adalah sosok yang berusaha melewati masa lalu, dengan sepenuh hati. Kemudian berulang kali berpikir, untuk lebih memilih menghabiskan waktu membentuk karakter dengan ilmu pengetahuan saja. Gue menghindari terjebak dalam kubang perasaan, karena gue paham, tak pernah hanya ada satu hati yang akan terluka. Luka yang tak mudah mengeringnya.

“Entah kenapa semuanya menjadi rumit kalo ama lo” hanya itu kalimat yang bisa gue sampaikan.

Gue lihat ada senyum kecil di ujung bibirnya, mungkin dia sedang coba menikmati situasi yang membingungkan ini.

Hingga malam mengantar gue pulang, barulah gue tersadar. Di antara alunan pelan reff lagu Sepatu yang diulang-ulang. Bahwa kita sebenarnya sama-sama saling mengharapkan, sekaligus paham bahwa tak bisa selalu berjalan beriringan. Tersebutlah porsi atas nama kesendirian, yang sejatinya mampu ciptakan rasa nyaman pada masing-masing kita.

Hingga sampai pada bait terakhir, yang nyatanya tak pernah benar-benar berhenti di sana. Ia menggema, terbawa arus hingga berdendang dalam alam bawah sadar.

Cinta memang banyak bentuknya 
Mungkin tak semua, bisa bersatu 






Yogyakarta


Zulfin Hariani
250820160210

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terinspirasi dari sebuah postingan karya Romeo Gadungan.
Kindly check this link for the source:

Komentar

  1. Wohoo, kenapa harus takut mencoba? Bukannya setiap kali mencoba 'hal baru' pasti ada moment untuk 'jatuh-bangunnya', kemudian dari situ kita bisa mengambil hikmah lagi dan belajar pada level yang lebih tinggi lagi. CMIIW.

    "Gue menghindari terjebak dalam kubang perasaan, karena gue paham, tak pernah hanya ada satu hati yang akan terluka. Luka yang tak mudah mengeringnya." Kalimat yang sangat manusiawi, I agree with ur statement.

    Ohya tetapi bagaimana jika setiap 'bayi' menghindari untuk 'belajar jalan' karena mereka paham jika dilakukan maka mereka akan 'jatuh' lalu 'terluka'? Hingga pada akhirnya jika 'bayi tersebut' selalu menghindari itu maka (mungkin) ia tidak akan bisa se'berlari' sekarang. Then, bagaimana pendapat Mbaa tentang hal itu? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin tepatnya bukan 'takut', tapi stock 'belum siap'nya yang belum habis. wkwk.

      karena dalam kesendirianpun, ternyata kita bisa belajar banyak hal.

      perjalanan bayi masih sangat panjang, mba.. :"D

      Hapus
  2. yahaa, bahkan ada pepatah yang bilang "selagi masih muda, habiskan stok kegagalan". Kegagalan ada ketika sesuatu sudah dicoba. Ehehe tapi entah pepatah itu bisa diterapkan dalam kondisi yang seperti apa dan bagaimana :D

    that's right. tetapi ketidaksendirianpun belum tentu tidak menghasilkan pembelajaran berharga :")

    ehehehe iyaps, setidaknya ia pernah terjatuh pada level sebelumnya, dan bangun kembali untuk jatuh pada level selanjutnya ;)

    BalasHapus
  3. yahaa, bahkan ada pepatah yang bilang "selagi masih muda, habiskan stok kegagalan". Kegagalan ada ketika sesuatu sudah dicoba. Ehehe tapi entah pepatah itu bisa diterapkan dalam kondisi yang seperti apa dan bagaimana :D

    that's right. tetapi ketidaksendirianpun belum tentu tidak menghasilkan pembelajaran berharga :")

    ehehehe iyaps, setidaknya ia pernah terjatuh pada level sebelumnya, dan bangun kembali untuk jatuh pada level selanjutnya ;)

    BalasHapus
  4. yahaa, bahkan ada pepatah yang bilang "selagi masih muda, habiskan stok kegagalan". Kegagalan ada ketika sesuatu sudah dicoba. Ehehe tapi entah pepatah itu bisa diterapkan dalam kondisi yang seperti apa dan bagaimana :D

    that's right. tetapi ketidaksendirianpun belum tentu tidak menghasilkan pembelajaran berharga :")

    ehehehe iyaps, setidaknya ia pernah terjatuh pada level sebelumnya, dan bangun kembali untuk jatuh pada level selanjutnya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sih setuju sama ini: "selagi masih muda, habiskan stok kegagalan" ☺️ kondisinya menyesuaikan sudut pandang kita terhadap peluang. but in this case, 'belum siap' versiku yaa menjurus ke 'proses mempersiapkan diri'. gitu. wkwk

      agreed with this: "tetapi ketidaksendirianpun belum tentu tidak menghasilkan pembelajaran berharga". karena seorang pemikir itu kadang lebih banyak diamnya malah ☺️

      haha, jatuh dan berhenti kan beda yah :))

      Hapus

Posting Komentar