Jika kamu kehilangan...

gambar diambil secara acak di google

Sekarang pukul 00:23 WIB.

Ketika aku menulis catatan ini, aku baru saja sampai kos sedari mengantar Mala—salah seorang Princcess Kos Mawar, ke Stasiun Tugu untuk balik (dadakan) ke Lombok.

Tepat beberapa jam sebelumnya, kami dikumpulkan oleh histeris Mala ketika ia menerima telepon. Sebuah berita duka. Mama Mala meninggal dunia. Innalillahi wainnailahi rojiun.

Mala berulang kali pingsan. Kami bergantian mengangkat telepon dari keluarganya. Dia harus pulang. Sesegera mungkin.

Maka iuran duitpun dilakukan. Kami terbawa sedih yang mendalam. Aku benar-benar sedih. aku tidak bisa bayangkan jika ada di posisi Mala :(

“..tunggu aku pulang dulu baru dimakamkan, Kak.. kumohon.”
“..aku mau peluk Mama untuk yang terakhir kali”
“..aku belum sempat minta maaf”
“..kenapa aku baru dikasi tahu sekarang?!”

Kami hubungi orang-orang yang bisa diandalkan untuk memesan tiket pulang, pun semua agen tiket langganan. Yayuk nelpon sana-sini, Kume chat agen tiket, Mba Vina ngepacking baju Mala, Yosi ngambilin duit, Laila, Anggita, Fenty, nenangin Mala yang meronta. Kami harus dapat tiket malam ini juga. Walau, nihil. Tidak ada tiket untuk malam ini. Solusi terakhir adalah menggunakan kereta jam 01:05 menuju Surabaya, kemudian lanjut pesawat pukul 09:30 dari Juanda menuju Lombok.

Rasanya tak ada spasi. Semua berjalan cepat. Bahkan hujan malam menuju stasiun tugu tak mampu buramkan kacamata ini dikecepatan Vava yang tak normal. Hiks.

Kami resah. Mungkin kami takkan pernah sanggup jika ada di posisi Mala, seorang gadis semester akhir yang sedang mengurus skripsi. Aku seketika merasa bersalah pada diri ini.

Mengapa?

Karena beberapa waktu yang lalu, aku juga tengah kehilangan.

Bukan, tidak separah Mala. Kali ini, aku kehilangan barang. Tepatnya, kehilangan dompet.

Dompet yang terbiasa bersamaku sedari zaman SMP. Ia hilang, bersama segala jenis kartu identitas, surat-surat penting, dan segala harta yang kupunya. Huhu.

Kukatakan sebelumnya, aku merasa bersalah pada diri ini. Kumenyesali, mengapa aku menghabiskan waktu untuk mengutuk diri? Betapa teledor. Betapa ndak teliti. Betapa ngerepotin orang lain. Betapa tidak bertanggungjawab. Betapa..

Malam ini, aku benar-benar belajar banyak tentang kehilangan. Betapa sesungguhnya, ketika kita kehilangan, sebenarnya kita sedang begitu dirindukan oleh Allah. Apasih, segala hal yang ada pada kita yang tidak bisa diambil oleh Allah? Sang Pemilik apapun yang bisa kita pikir adalah milik kita. Jangankan sebongkah dompet, nyawa juga mampu Ia ambil kapan saja.

Jika kamu kehilangan...

Sesungguhnya Allah sedang melindungimu dari banyak hal. Sekelebat pikiran sampai di otakku malam ini. Mungkin, sebenarnya, Allah sedang melindungiku. Aku kehilangan justru karena Allah menyayangiku. Akunya aja yang ngga paham dan hanya bisa menyesali nasib.

Who knows? Kali aja Allah sedang menukar marabahaya dalam hidupku dengan kehilangan dompet itu. Mungkin di garis takdirNya, aku memang sedang harus kehilangan. Tapi Allah tukarkan dengan hal yang lebih safety untukku. Aku sempat mendumel, aku harus datang ke polsek mana lagi untuk mengurus surat kehilangan? Aku harus telepon nomor mana lagi untuk memblokir kartu? Aku harus ke pos mana lagi untuk kirim berkas? Aku harus bolak-balik berapa kali untuk mengurus ini-itu? Aku harus habis pulsa berapa untuk telepon orang rumah—dan malah kena omel Mama? Aku harus menceritakan kronologi berapa kali lagi sih ah ke orang-orang? Apa aku harus bertindak seperti orang bego terus sambil bongkar-bongkar kamar ketika mau bayar galon untuk nyari dompet, yang aku lupa bahwa dia sudah hilang? Astagfirullah. Bahkan aku harus tetap membutuhkan “harta” ketika kehilangan “harta”. Betapa aku begitu tenggelam dalam urusan duniawi.

Tapi, apalah arti kehilangan sebuah dompet? Tidak sebanding dengan kehilangan orang yang merawat kita sedari kecil. Tidak sebanding sama sekali.

Mungkin, Allah ingin aku stay di kos, karena sudah ngga punya SIM dan STNK. Mungkin Allah sedang melindungi aku dari bahaya kecelakaan di jalan, betapa padatnya Jogja akhir-akhir ini bikin ngeri ternyata. Event besar dimana-mana. Mungkin Allah mau aku menjalin silaturahmi lebih intens dengan keluarga di rumah, dengan bertelepon hampir setiap hari karena beberapa kartu harus diurus lewat rumah. Mungkin Allah mau aku lebih akrab dengan bapak-bapak di perpus kampus dengan ngobrol ringan ketika mengurus kartu anggota yang hilang. Mungkin saja juga Allah sedang melindungiku dari penyakit yang bisa aku dapatkan dari membeli makanan dengan uang dalam dompet itu kelak. Mungkin Allah juga sedang membantuku untuk bersedekah, jadi aku sedang dipermudah untuk menyisihkan rizki. Mungkin Allah ingin aku mendengar cerita Costumer Service di bank kemarin, dimana ia bercerita tentang berita kehilangan juga dan aku lebih beruntung. Yas, seharusnya aku bisa lebih banyak bersyukur.

Ketika Mala diberitakan atas kematian Mamanya, ia tak henti menyebut asma Allah.

“Yaa Allah.. Yaa Robbi.. Allahuakbar..”

Aku bertanya pada diri ini, apa aku harus kehilangan lebih banyak lagi untuk selalu ingat Allah?

Sungguh, semudah itu Allah mengambil apapun yang kita pikir kita miliki, padahal Dialah pemilik yang sebenar-benarnya. Astagfirullah.

Untuk siapa saja di luar sana,

Jika kamu kehilangan...

Jangan pernah berpikir bahwa nasib membawamu ke jalan yang lebih buruk. Ketika kamu kehilangan, kamu akan paham, siapa orang-orang yang benar-benar mengasihimu. Peduli dengan begitu tulus, mau berkorban semampunya agar kamu merasa lebih baik. Kamu akan melihat dengan hati, ada orang-orang yang bahkan tak pedulikan kesenangan jangka panjangnya, hanya agar bisa membantumu di saat kamu benar-benar butuh. Jaga mereka, mereka berharga.

Jika kamu kehilangan...

Jangan malah semakin menjauhkan diri dari Allah. Cinta Allah tidak terbatas, seandainya kita bisa melihat rancangan hidup yang Allah atur untuk kita, mungkin hati kita bisa meleleh karena cinta kita padaNya.

Untuk siapa saja di luar sana yang tengah bersedih,

Kuatkan hatimu. Jika kamu lemah, kamu akan melewatkan banyak hal yang masih bisa diperjuangkan. Bergeraklah. Jangan lupa selalu berbaik sangka, karena dalam keadaan terburuk pun ternyata bisa membuatmu lebih paham atas skenario hidup. Jalani saja. Jalani saja. Jalani saja. Tetap, jalani saja dengan hati yang lapang.

Aku tahu aku bukan orang yang paling kehilangan banyak hal di hidup ini. Aku percaya, ada orang-orang di tempat lain, yang juga mungkin tengah kehilangan, bahkan mungkin kehilangan sesuatu yang lebih hebat dari apa-apa yang pernah aku lewati. Namun sepertinya, sebesar apapun jenis kehilangan itu, tetap, adalah sebuah bahasa yang ingin Allah sampaikan pada kita, bahwa ia begitu rindu kita mendekat padaNya.

Untuk siapa saja di luar sana yang membaca tulisan ini,

Kamu tidak perlu harus merasakan sendiri kehilangan yang hebat, kemudian dapat belajar sesuatu yang hebat.

Jika suatu hari nanti kamu kehilangan...

Kuatlah. Be positive. Percaya bahwa ada garis takdir terbaik yang menunggu di depan sana.



..karena jika diizinkan, mungkin seorang Mala akan memilih untuk kehilangan segala dompet yang dia punya saja daripada kehilangan seorang Mama


Yogyakarta,


Zulfin Hariani
090920160115

Komentar