Maka, kita berteman


Aku bisa menjadi apa adanya diriku ketika  bersamanya
Dia selalu menjadi apa adanya dirinya jika bersamaku
Beberapa hal yang tak bisa kuceritakan ke orang lain, bisa kuceritakan padanya
Banyak hal yang tak bisa ia sampaikan ke orang lain, selalu dicurahkan habis-habisan padaku

Kita pernah tertawa bersama
Menghabiskan waktu sembari jalan-jalan bersama
Juga saling menyakiti
Kemudian saling memaafkan
Kita, menangis berdua
Pernah aku menangis atas pedih hidupnya
Pun dia menagis karena merasa aku tak cukup kuat menghadapi sedihku
Kita, pernah kelaparan seharian berdua
Dia tak makan karena menunggu aku pulang
Aku berjanji kita makan bersama, tapi aku terlalu banyak urusan
Pernah kita iuran buat minum satu galon berdua
Saling menceritakan sahabat-sahabat di masa lalu hingga tengah malam
Kita seperti saudara, berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga masing-masing

Dia yang paling bisa menghadapi marahku
Juga egoku, badmoodku, sebalku, sedihku
Dia hanya bisa marah kepadaku
Tidak pada mereka, tidak pada siapapun karena dia takut melukai
Dia paling bisa menasihatiku, selalu tepat sasaran, tanpa segan
Dia yang paling mengerti kapan aku hanya tengah butuh pendengar saja, tanpa komentator
Dia selalu meminta pendapatku, membandingkan antara seleraku dengan seleranya
Dia bisa mengomeliku seharian karena marah pada orang lain
Dia tahu kapan harus patuh saja dan mendengarkan apa yang aku katakan
Aku tahu kapan harus menerima saja sesuai dengan apa yang dia instruksikan
Dia percaya aku, aku percaya dia
Dia bisa diandalkan dalam keadaan genting, bahkan tengah malam dan hujan
Dia sering tetiba mengetuk pintuku di tengah malam, ingin tidur bersama karena mimpi buruk
Dia bisa merasakan seberapa deras air mataku yang tertahan
Aku bisa melihat seberapa besar gengsi yang dia sembunyikan sebelum memelukku
Dia tahu, aku sadar dia tahu, dan selalu begitu

Aku tidak pernah keberatan dengan apapun yang ada pada dirinya
Dari mana dia berasal, bagaimana keluarganya, teman-temannya, problematika hidupnya
Dia tidak pernah ambil pusing dengan apapun yang ada pada diriku
Bagaimana aku bersikap, budaya yang kubawa, barang-barang yang kukoleksi
Kita merasa bisa saling menerima, kemudian nyaman antara satu dan yang lain
Maka, kita berteman

Kita saling merindukan dalam jarak
Lucunya, kita tak saling menghubungi
Bahkan kita saling diam di waktu yang lama
Namun ada kesadaran yang penuh pada masing-masing kita
Bahwa kita baik-baik saja walaupun tetap seperti itu
Dia tahu aku takkan bisa lupakan dia
Aku juga tahu aku terlalu berkesan di hidupnya
Kita tidak akan saling melupa





Kamar nomor 15A


Zulfin Hariani
280820161940

Komentar

Posting Komentar