Pemuja Rahasia 6

Kita semua pasti pernah menyukai seseorang yang padahal kita sadari tidak akan pernah kita miliki. Tapi, kita tidak bisa berhenti untuk suka pada tiap tindakannya, membayangi wajahnya, dan mencari tahu segala hal tentang dia. Kita berusaha menarik perhatiannya, memujanya dalam diam, walau kita masih sadar, dia bukan untuk kita.

Ada seorang pria di luar sana. Yang tidak pernah tahu bahwa aku menyimpan rasa. Seorang pria yang begitu misterius. Dia bisa menjadi begitu ramah dan lucu di waktu bersamaan. Dia memiliki kulit yang terang. Alisnya yang tebal membuat sudut matanya tajam. Dia berdiri dengan tegak, walau terkadang jika sedang malas, bungkuk punggungnya terlihat begitu menawan. Dia lebih sering menggunakan kemeja daripada kaos. Dia memiliki suara yang berat—kadang begitu cempreng jika tawanya meledak. Dia suka bernyanyi walau suaranya fals. Dia tak punya banyak sepatu kets pun sneakers, dia punya banyak pantofel, sandal gunung dan jepit. Dia suka menggunakan jaket dan tas punggung. Dia selalu memejamkan mata jika tertawa—atau karena dia sipit? Dia begitu ambisius dan membawa aura positif. Dia suka menyendiri, walau tetap keren di keramaian. Dia selalu gagap jika memanggilku, entah, seperti dia ingin memanggilku dengan nama selain yang dia ucapkan atau dia memang lupa namaku. Haha. Aku suka melihatnya memakai warna putih, hitam, dan biru muda. Dia begitu pintar, dia sering menceritakan buku-buku yang dia baca—kemudian membandingkan buku yang satu dengan buku lainnya. Dia memiliki selera fotografi yang mirip denganku, nature photograph. Dia suka travelling. Dia bisa diandalkan di saat-saat genting. Dia, selalu menawarkan bantuan kepadaku, namun entah mengapa, aku selalu merasa takut untuk itu. Iya, takut baper. Dia begitu menyukai anak kecil. Dia terlihat seperti sosok seorang kakak yang selalu menjaga dan bertanggungjawab pada adik-adiknya. Pun, dia sosok anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Dia bisa membuat orang lain nyaman dalam menerima apa adanya dirinya. Dia begitu sopan dalam bertindak dan bertutur. Dia keras kepala dan tidak mau kalah dalam perdebatan. Dia tidak pandai menyembunyikan wajah sedih dan khawatir. Dia tidak malu menangis di depan umum—yang justru menunjukkan jiwa lembutnya, tidak terlihat cengeng sama sekali. Dia sosok yang mandiri. Dia adalah seseorang yang suka berkorban demi orang lain, selalu mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya. Dia memiliki jiwa leadership yang tinggi. Juga, dia adalah pendengar curhat yang baik.

Ada seorang pria di luar sana. Yang hanya mengenalku sebagai seorang yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidupnya. Yang mungkin tak mengingatku setiap hari. Yang tidak penasaran denganku, ketika orang lain penasaran. Aku, mungkin hanya satu dari banyak orang yang pernah dia perlakukan dengan baik. Aku, mungkin bahkan tak pernah benar-benar ingin dia kenal.

Tentang seorang pria di luar sana. Aku berharap hidupnya selalu bahagia. Diberikan kemudahan oleh Tuhan atas segala urusannya, agar dia bahagia. Dikelilingi oleh orang-orang yang baik kepadanya, agar dia bahagia. Diberikan kesehatan di tiap hari, agar dia bahagia. Ya, aku sungguh ingin dia bahagia dan baik-baik saja.

Dia adalah pria pertama, yang begitu aku kagumi namun takut aku miliki. Dia tidak jauh, aku pun merasa mampu meraihnya—jika aku mau, hei aku punya semua kontak pribadinya! Hanya saja, aku takut jika ia bersamaku, dia tidak bahagia. Kehadirannya mengajarkanku rasa yang susah diterjemahkan dalam bahasa, bagaimana mungkin kau bisa begitu menyukai seseorang namun takut memilikinya? Kukatakan sekali lagi, aku tahu celah yang mampu luluhkan hatinya. Jika aku tidak benar-benar menyukainya, mungkin kita bisa bersama sekarang juga. Namun, semakin aku menyukainya, aku semakin sadar bahwa dia hanya sosok yang pantas aku sukai, aku kagumi. Tidak lebih. Dia memiliki banyak cela, dia juga pernah bertindak idiot. Aku tahu itu. Dia juga pernah salah, dicibir orang-orang, dan mungkin terlalu angkuh. Walau begitu, dia tetap keren. Semakin keren ketika menghentikan aktifitas untuk segera sholat dan kembali dengan rambut basah karena wudhu.

Aku pernah membencinya. Begitu benci hingga aku muak mendengar namanya. Dia juga pernah membuatku menangis. Dia sering menemukanku ketika aku sedang bertindak konyol dan ceroboh. Dia, dia, dia, dia, sungguh membuatku tidak waras.

Dia, sosok pria yang lebih aktif di dunia nyata daripada maya. Kehidupan mayanya tidak begitu ramai. Dia lebih sering muncul di postingan akun teman daripada di akunnya sendiri. Ya, begitu caraku mengetahui dia ada dimana sekarang, sedang mengusahakan apa, dan apa saja yang berubah dari wajahnya. Hari ini, sebuah postingan teman menampilkan dirinya—padahal setelah sekian lama aku menghindari dia. Dan itu cukup ampuh menjemput segala memori yang pernah kupunya tentang dia. Padahal hanya sebuah foto dengan kaos berwarna putih. Seketika aku ingin menulis catatan ini karenanya.

Aku tahu, dia tidak akan pernah membaca tulisan ini. Seandainya pun ia membaca, dia mungkin tidak akan sadar bahwa dialah tokoh di balik pria di luar sana ini. Dia pasti menduga—karena kita tak begitu dekat sekarang, bahwa aku sedang membicarakan orang lain. Dia pasti ingin menggodaku karena rasa cintaku pada sosok yang dia pikir bukan dia. Dia pasti tak menyangka bahwa aku begitu tertarik dengan kepribadian sosok yang dia pikir bukan dia. Dia pasti mengira bahwa aku tak pernah bisa menyukainya sehebat ini—karena aku selalu menghindarinya. Hingga akhirnya dia bertanya-tanya, apakah sosok yang sedang ia baca adalah dirinya yang disamarkan beberapa identitasnya karena satu hal yang dia tahu tentang aku adalah, aku sebenarnya susah jujur dengan perasaanku sendiri. Aku bisa menyembunyikan sosok yang kumaksud dalam sosok yang lain. Aku bisa menceritakan orang lain menggunakan identitas orang lain. Karena dia pernah berkata, “mengapa harus mengatakan hal yang tidak perlu dan mengada-ada hanya untuk menutupi bahwa kamu begitu peduli?” Ya, aku bisa membuat kamu—siapapun yang sedang membaca ini, salah paham. Kamu tidak akan pernah tahu, mungkin saja sosok yang kubicarakan adalah kamu—tentu dengan beberapa polesan kata yang (kusengaja pilih hanya agar kamu berpikir bahwa dia) tidak mencerminkan kamu.

Hei, kau belum mengenalku utuh.

Maka akhirnya, untukmu, sosok yang kuceritakan sebagai pria di luar sana. Jangan terlalu banyak menduga, kau hanya cukup hidup dengan bahagia saja. Toh aku tetap menyukaimu. Mungkin lebih lama dari selamanya.





Yogyakarta
Your secret admire,



Zulfin Hariani
190920160206


Komentar