Kepada Wanita Anggrek


Aku ingin berterimakasih kepada wanita-wanita anggrekku, dimana pun mereka berada kini. Ungkapan terimakasih yang benar-benar dari lubuk hati terdalam.

Terimakasih karena pernah mencoba untuk baik kepadaku. Kemudian membuat aku berpikir bahwa kita dapat baik-baik saja hingga seterusnya.  Kau mencoba untuk memahamiku, walau sepertinya itu terlalu sulit ya? Hehe, maaf. Tapi, ya, memang, setelah kupikir-pikir, pun aku begitu sulit memahamimu. Betapa sulitnya mengerti mengapa kau menjadi aku di tempat lain, kemudian tak membagi yang kau punya padaku lalu berlari sendiri hingga jauh. Sungguh, sebenarnya aku tak masalah dengan itu semua, aku membagi milikku bukan lantas mengharap dapat bagian dari milikmu. Bukan. Pun aku tak masalah jika kau menjadi aku di tempat lain. Yang aku permasalahkan, mengapa harus pergi dan berbohong. Hanya itu. Karena, aku sungguh tak mengerti tentang apa yang kau pikirkan tentang aku, apa ekspektasimu tentang aku? Apa kekhawatiranmu atas aku? Mengapa tidak memilih berkata jujur saja? Apa selama ini, yang kulakukan pernah menyakitimu? Jika aku tak membuatmu nyaman, aku minta maaf. Aku tidak mengerti jika rasa cinta pada seseorang justru dapat memisahkan. Namun, apapun itu, terimakasih kuucapkan untukmu. Kau wanita anggrek pertama yang memperlakukan aku seperti itu, olehnya, aku menjadi terbiasa atas perlakuan wanita-wanita anggrek yang kutemui setelah kamu.

Terimakasih juga kepada wanita anggrekku yang lain, karena dia selalu membuatku berusaha dan ingin melampaui dirinya. Aku bersyukur dipertemukan oleh kamu, Si Cantik. Terimakasih atas jiwa kompetisi yang kau tanamkan padaku. Karenamu, aku menjadi lebih giat belajar, membaca, menemukan arti dari istilah-istilah asing. Kau memompaku untuk berani mengambil risiko. Kau memacuku untuk mencoba hal-hal baru. Berkat ingin menandingimu, hidupku menjadi lebih berwarna dan tidak monoton. Ya, walau akhirnya kita berjalan di jalur masing-masing, pernah melewati masa-masa perjuangan denganmu adalah hal yang menyenangkan untukku. Terimakasih. Mengenalmu, sepaket dengan segala hitam-putih di dalamnya, membuatku merasa beruntung. Seperti aku dapat melihat peluang, bahwa apapun yang ingin aku raih bukanlah hal yang mustahil. Kau bisa mengusahakan mimpi dalam keadaan yang bahkan tak kau harapkan, pun aku seharusnya bisa mengusahakan segala hal yang aku inginkan dalam keadaan ini. Jika kedekatan kita bukan menyoal siapa yang kalah ataupun menang, dimana yang kalah harus menghilang dari hadapan pemenang, kuharap kita tetap baik-baik saja. Terimakasih atas segala pencapaianmu yang sungguh membanggakan, aku turut senang, dan akan segera kubayar dengan kemenangan juga.

Untuk wanita anggrekku yang terakhir, terimakasih telah memilih aku bahkan ketika aku belum mengenalmu utuh. Mencoba mengenal dan melindungiku. Berusaha membuat aku nyaman dan mau memahami kebiasaan-kebiasaanku. Terimakasih membuatku merasa bertanya-tanya tentang jati dirimu. Olehnya, setelah kau pergi karena aku tak bisa menjadi yang kau mau, aku memikirkan banyak hal. Tentang memang benar, seharusnya memberi tak harus berujung menerima. Membenci tak harus saling menjatuhkan.  Kau terlihat bahagia bersama bunga-bunga yang lain, aku turut senang. Itu artinya kau telah temukan teman-teman yang mau sepaham dengan penawaran-penawaranmu. Maaf untuk tidak bisa menjadi sepertimu, aku adalah seorang yang memang lebih memilih menjadi diriku. Aku tidak bisa membenci yang kau benci hanya karena kau temanku. Aku harus punya alasanku sendiri untuk melakukan hal yang butuh pertanggungjawabanku. Ya, kita tak sepaham. Dan itu bukan alasan yang cukup hebat untuk kita tidak bertemu jika ada kesempatan kan? Aku ingin berbincang-bincang seperti dulu lagi denganmu, ya, walau hanya sebatas teman yang tak sepaham.


Semoga Tuhan menjaga kalian di tiap langkah kita yang berbeda.

          




Yogyakarta,



Bunga Matahari
030920160228

Komentar