Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Tuhan Maha Adil

Gambar
Ternyata orang-orang makin kreatif bikin password wifii!
Yaa, aku juga pernah ngalamin sih. Walau bukan menyoal password wifii, tapi ke nama bluetooth. Mirip-mirip lah yaaa. Aku mau cerita deh, walau duh, uda dulu banget itu pun. Zaman SMP sampai SMA.
Temen: Fin buruan nyalain blutut, katanya mau dikirimin lagu
Fin: Uda kok dari tadi nih
Temen: Ahmasasi? Kok ngga keditek yak? No device found gitu dari tadi aku scan
Fin: Nah, itu emang
Temen: Apaan?
Fin: Nama blututkulah
Temen: Ga ngerti dah
Fin: No device found, itu nama blututku
Temen: ...
*kemudian ane ditoyor pake gergaji*
Dan, yhaa nama bluetooth itu masih berlaku sampai sekarang.
Cerita lain.
Fin: Lama amat dah ngirimin foto doang
Temen: Yaa sabar ini lagi dimark atuk-atuk
Fin: Aku uda nyalain blutut dari tadi nih
Temen: Iyaa dikit lagi, blututmu apaan dah?
Fin: Sudah belum?
Temen: Iyaaaa ini tinggal ngirim Fifiiin
Fin: Yauda. Sudah belum?
Temen: Sudaaah, sabaran dikit napa Fin?
Fin: Okray
Temen: Nama blututnya apaan dah?
Fin: Su…

Di Sebuah Toko Kue

Sore hari di sebuah Toko Kue.
Fin: (Ambil tart dalam kulkas, taro di meja kasir) Bu, lilinnya di sebelah mana ya? Bu Toko: Bergelantungan di sebelah sana, Mbak (Nunjuk pojokan) Fin: (Ambil lilin, bawa ke meja kasir) Bu Toko: Ga sekalian balonnya, Mbak? Fin: Yang ultah uda tua, Bu. Ga pake balon lagi Pak Kasir: (Mulai ngitung total belanjaan depan mesin kasir) Bu Toko: Ga sekalian koreknya, Mbak? Fin: Sudah ada, Bu Pak Kasir: (Ngambil plastik bawah meja) Bu Toko: Kalo yang ultah...uda ada, Mbak? Fin: ... Bu Toko: Saya mau daftar Pak Kasir: Wah, ngelawak Fin: Kode keras tuh, Pak. Besok pas ultah dikasi kue ajah Pak Kasir: Kalo saya mah gampang, Mbak. Suruh ambil sendiri aja maunya yang mana di kulkas Fin: ... Bu Toko: ...


Wah, ngelawak.
Dasar lelaki.

Mengapa

Gambar
Dear, Kamu. Aku ingin bertanya.
Mengapa tidak coba lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri? Mengapa tidak lakukan yang kamu inginkan saja? Mengapa begitu peduli dengan tanggapan orang lain? Mengapa takut dengan penilaian orang lain? Mengapa lebih memilih untuk mengekang diri, padahal penawaran akan kebebasan ada di sekitarmu? Mengapa harus merasa bersalah yang dalam pada hal-hal yang di luar kuasamu? Mengapa selalu ingin menjadi sempurna? Mengapa tak manfaatkan waktu untuk beristirahat? Mengapa lebih mencintai orang lain daripada diri sendiri? Mengapa memaksa diri menjadi seperti lilin yang rela habis untuk terang?
Kamu, mengapa menjadi begitu menakutkan?





E2.003

Zulfin Hariani 080320171032

Candu

Gambar
Assalamualaikum warrahmatullahiwabarrakatuh!
Akhir-akhir ini mood membacaku lagi terobang-ambing. Biasanya ada buku dalem tas tiap mau ke mana aja yekan. Sekarang mulai jarang gegara ‘kok ngga kebaca muluk ya?’. Tas juga lagi jadi penuh-penuhnya, berat, jadilah waiting list bacaanku ngga kelar-kelar. So sad :<
Tapi pernah ga sih kalian berada di titik ngerasa harus membaca sesuatu gitu? Tetiba kangen sama atmosfer baca di ruang tamu rumah disela-selai nyeruput cappuccino panas plus aroma tanah lembab yang masuk lewat jendela? Pernah ngga sih kalian kangen atmosfer baca buku di atas kasur waktu malam semakin dingin dan selimut tebal jadi sobat paling mengerti karena enak didusel-duselin sampe pagi? Atau misalnya baca buku yang mengaduk emosi banget gitu yang bisa bikin terharu, ngakak, termotivasi, sampai akhirnya ngasi spidol di kalimat-kalimat favorit tiap lembar? Waah, kurindu! Dulu selalu bisa nyempatin diri untuk ngelakuin itu semua. Dulu, ngga pernah takut jatah waktu tidur t…

Mungkin, Kau Belum Cukup Bijaksana Memahami Marahnya

Gambar
Mungkin, kau belum cukup bijaksana memahami marahnya.
Mungkin, ada sesuatu yang terlewatkan. Sesuatu yang jika kau coba mengerti, dapat menempatkanmu pada sudut pandang dia. Mungkin, kau hanya tidak ingin dia terluka. Semakin dalam atas tindaknya yang tak terbaca. Atau mungkin, kau hanya telah merasa gagal melindungi dia.
Ada seseorang di luar sana, yang jika kau mengenalnya sebatas makan malam bersama saja, membuatmu berpikir bahwa dia tidak selalu berbaik hati pada semua orang. Hanya melakukan yang dia suka. Sering lupa dengan janji-janjinya. Dia memang tak selalu benar. Dia sering disalahkan, tapi seseorang yang mau menerima dia pasti paham, bahwa itu karena dia yang memang tak pandai membela diri. Dia membiarkan orang lain menyalahkan. Namun sejauh dia merasa telah melakukan sesuatu yang tepat antara pilihan-pilihan sulit, dapat dipastikan dia hanya akan memilih diam.
Kemudian dia mulai ditinggalkan. Oleh mereka satu per satu, pelan, pasti. Dilupakan segala kebaikan-kebaikannya. Hanya d…