Mungkin, Kau Belum Cukup Bijaksana Memahami Marahnya



Mungkin, kau belum cukup bijaksana memahami marahnya.

Mungkin, ada sesuatu yang terlewatkan. Sesuatu yang jika kau coba mengerti, dapat menempatkanmu pada sudut pandang dia.
Mungkin, kau hanya tidak ingin dia terluka. Semakin dalam atas tindaknya yang tak terbaca.
Atau mungkin, kau hanya telah merasa gagal melindungi dia.

Ada seseorang di luar sana, yang jika kau mengenalnya sebatas makan malam bersama saja, membuatmu berpikir bahwa dia tidak selalu berbaik hati pada semua orang. Hanya melakukan yang dia suka. Sering lupa dengan janji-janjinya.
Dia memang tak selalu benar. Dia sering disalahkan, tapi seseorang yang mau menerima dia pasti paham, bahwa itu karena dia yang memang tak pandai membela diri.
Dia membiarkan orang lain menyalahkan. Namun sejauh dia merasa telah melakukan sesuatu yang tepat antara pilihan-pilihan sulit, dapat dipastikan dia hanya akan memilih diam.

Kemudian dia mulai ditinggalkan. Oleh mereka satu per satu, pelan, pasti. Dilupakan segala kebaikan-kebaikannya. Hanya disapa sekenanya. Dia pernah berjaya dan kini sendirian.

Dia, seseorang di luar sana, yang memilih basah kuyup ketika hujan, daripada terjebak dalam keramaian.

Seseorang yang mau memahaminya, mengerti mengapa dia suka menulis ketika hujan. Lalu membuka semua jendela, mengizinkan gemericik kecil basah masuk bersama angin. Dia akan memutar instrumen lagu-lagu, jika kau berada di sana bersamanya, kau akan mengerti betapa musik dan derai hujan adalah kolaborasi yang mendamaikan.

Maka jika ia tengah marah, besar dan sejadi-jadinya, mungkin memang karena kau yang belum cukup bijaksama memahami dirinya.
Betapa dia sebenarnya telah mempertimbangkan banyak hal sebelum menyerah.
Betapa dia sebenarnya telah berusaha menahan diri untuk tidak menyakiti siapapun.

Iya, pikirkan, mungkin, kau belum cukup bijaksana memahami marahnya.


Yogyakarta


Zulfin Hariani
0303420171349

Komentar