Kepada Seseorang yang Hatinya Terkunci



Kepada seseorang yang hatinya terkunci,

Aku tahu ramai yang kau rasa tidak pernah benar-benar nyata. Kau bertemu dengan banyak orang, berbagi cerita dan belajar sesuatu dari mereka. Kau berjalan sampai jauh, terkadang berkawan namun tak masalah sendirian. Kau menertawakan sepimu. Kau menyadari gundahmu. Kau tahu apa yang kau butuhkan, tapi tidak pernah benar-benar ingin mendapatkannya. Kau mencoba mengalihkan rasa sepi, bertemu orang-orang baru, mencoba menekuni hobi, lebih mendekatkan diri pada Tuhan, atau bahkan  justru berjalan semaunya tanpa arah secepat yang kau bisa. Kau kerap tidak bijak mengontrol pengeluaran, sebabnya kau terus berputar pada  roda yang sama atas nama pengumpulan harta. Kau bahkan sadar sepenuhnya atas apa yang kau lakukan, namun kau hanya ingin kaburkan luka dengan banyak kebahagiaan.

Kepada seseorang yang hatinya terkunci, sejak lama,

Bukannya kau tidak pernah mencoba, membuka kunci hati dengan mereka yang nampaknya menjanjikan kebersamaan. Bukannya kau menutup diri, kau selalu mencoba menyambut ramah siapapun yang datang bersahabat. Dan bukannya kau mudah menyerah, hanya saja ketika di tahap penghujung perjuanganmu, kau sadar tidak bisa melanjutkannya. Kau menjadi tergoda goyah atas pasrah, kau mencoba menjadi baik-baik saja sendirian. Sebab bagaimana pun juga, kau pernah terluka begitu hebat sebelumnya. Kau pernah memiliki mimpi besar dan memaksa diri memadamkannya. Kau pernah mencoba mempertahankan, melawan diri sendiri, membantah kepedulian orang lain, hingga berpikir tidak akan pernah memulai lagi. Maka sesungguhnya, dirimulah yang mengunci dan satu-satunya yang mampu membuka sangkar.

Kepada seseorang yang hatinya membatu,

Kau mungkin sering bertanya-tanya mengapa orang-orang bisa dengan mudah memulai lagi, sedang engkau masih terjebak pada diri sendiri, hatimu membeku—membatu. Menjadikanmu terlalu hapal atas pola-pola. Kau bisa menerka, kau bahkan tahu apa penawar luka, kau menjadi terlalu bosan dengan kata-kata. Kesemuanya yang pernah kau lalui, jadikanmu mampu gambarkan dengan jelas bagaimana awal akan mengilusikan rasa suka-ria. Kemudian rasa saling merindu diam-diam. Lalu menghilang perlahan tersebab alasan yang tak pernah cukup logis. Ritme yang sama untuk kembali ke lingkaran semula. Kau ingin temukan seseorang yang polanya tak bisa kau baca, atau mungkin, kau ingin temukan seseorang yang bersedia dibaca polanya namun dapat kau jadikan kawan dalam menyusun pola-pola menyenangkan selajutnya.

Kepada seseorang yang hatinya membatu, sejak lama,

Kau mungkin sering menyesali diri. Atas pertanyaan mengapa memelihara bibit pengecut secara rahasia? Atau mengapa dapat bertahan begitu lama atas luka yang seharusnya sementara? Atau mengapa harus membatu hati dan pikiran atas segala kemungkinan?

Suatu hari kau akan benar-benar menyesal. Semakin menyesal karena kau sadar telah melewati banyak waktu dan kesempatan. Kau menyesal telah memandang dunia terlalu rumit—yang semestinya bisa kau jalani sama seperti orang-orang lainnya yang kini hidup bahagia.

Tak seharusnya kau seperti itu.

Tak seharusnya kau merasa sendirian. Cobalah keluar, selalu ada sepasang telinga yang mau mendengar. Tidak semestinya kau merasa hilang atas dirimu, kau selalu punya Dzat Maha Tinggi yang akan menemukanmu, menemukan dia, mempertemukan kalian. Terimalah kebaikan orang lain, berikan juga kebaikan dengan hati yang tulus. Tak apa mengeluh sesaat, ambil hikmah untuk bangkit seterusnya.

Maka sekali lagi, kepada seseorang yang hatinya terkunci dan membatu,

Kau belum terlambat.




Yogyakarta,



Zulfin Hariani
060420171211

Komentar

  1. Bantu di bukain atuh fin, mana tau ente di ajak masuk :p

    BalasHapus
  2. Bukain dari dalam?
    I am already inside their heart kok.
    *put my fav sticker here

    BalasHapus

Posting Komentar