Sampai Kapan



Then, he asked me,
“sampai kapan?”

In the short way, I’ll say,
Sampai kamu merasa yakin pada dirimu sendiri atas aku.
Sampai aku merasa yakin pada diriku sendiri atas kamu.
Sampai kita berdua benar-benar yakin satu sama lain.

In the long way, I’ll say,
Sampai kamu bisa melihat sisi terburuk dalam mengagumiku, namun tetap memilih menerimanya.
Sampai kamu bisa mendengar berjuta penolakan atasku dalam dirimu, namun tetap menemukan alasan menerimanya.
Sampai kamu bisa rasakan berkali-kali jatuh dan terjerembab, namun masih mampu memaksakan kaki untuk berdiri hingga berlari.
Sampai kamu bisa melihat mimpi-mimpi terburuk yang mungkin saja terjadi, namun mampu terbangun dan membentuk mimpi yang baru.
Dan, begitu pula berlaku padaku atas kamu.

Or, in the other words, I’ll say,
Sampai kamu selalu mengharapkan kehadiranku dihari-hari selanjutnya.
Sampai kamu cukup percaya diri untuk bertukar ilmu tanpa ragu denganku.
Sampai kamu ingin menjalani hari terang dan gelap bersamaku.
Sampai kamu merasa berbagi luka denganku adalah hal yang diperlukan.
Sampai kamu benar-benar yakin, bahwa aku adalah orang yang kamu cari.
Dan, masih, ya, begitu pula berlaku padaku atas kamu.

Walau kusadari, mungkin ku masih terlalu liar tuk dimiliki.
Sedang engkau, juga telah berulang kali mencoba menyerah.

Ataukah, ini hanya sekelumit pikir yang berputar di roda yang sama, tak kemana-mana?


Sampai kapan?





Kamar nomor 15A



Zulfin Hariani
010420171203

Komentar