Hai!

HAI!

Jadi, ceritanya aku lagi bongkar-bongkar hardisk gitu yakan. Eh terus nemu beberapa tulisan yang bikin aku bergumam, “eh ini uda kelar lama kok ga langsung aku posting yak dulu?”

Dan, yaa emang sih. Sejak nulis menjadi kebutuhan, ngeupload bukan lagi hal yang kayaknya kudu disegerakan gitu. But, sejak kejadian hardisk dan laptop rusak beberapa waktu silam dan menyebabkan beberapa file tulisan hilang. Kok rasanya ngesave di blog masih menjadi opsi yang ‘leh uga’. Dan lagi, aku baru sadar blogger ada fitur buat ngejadwal postingan buat diupload—aku cuma ngeh settingan itu ada di fanpage facebook Masih Nyata. Hahaha, shame on me. So, bisa ngestock buat ngupload rutin deh (begitu pula dengan postingan ini). Hehehe

So, here you go. Tulisan zaman kapan yang diupload kapan~
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Assalaamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh

Wah, posting pertama di tahun 2017!

Sebelum Januari lewat, is it too late now to say happy new year?

Baca kalimat di atas sambil nyanyi ga? Kalo ngga, mungkin kamu emang bukan Bliebers. Iya, sama kok. Aku juga bukan Bliebers.

Saat aku menulis ini, the last gigi grahamku sedang dalam proses tumbuh dan sakitnya subhanallah. Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu si Kume dan Mbasin juga lagi numbuh gigi gitu. Mereka bilang sakit banget, lalu dengan pedenya aku bilang, “ah masa sih? ngga percaya ah”.  And yaaas, sekarang, aku, percaya. Mungkin ini definisi kualat. Cuman yaa itu tadi, aku ga nyangka bisa tertular. Apa karena kami menggunakan gelas yang sama ketika minum? Atau karena tidur di ranjang yang sama? Atau karena…yakalik ah.

Hari ini, di sela nyut-nyutnya gigi, aku memikirkan beberapa hal.

Pernah ga sih kamu ngerasa di tahap hidup paling monoton? Padahal kamu punya aktifitas yang bisa dibilang rutin juga, tapi rasanya tetap monoton ajah gitu. Rasanya semacam flat. Rasanya seperti gelisah ingin melakukan hal yang lain, tapi terlalu banyak rencana, ga action sampai akhir.

Aku lagi di tahap itu.

Padahal kalo dipikir-pikir lagi, banyak sih yang bisa dilakuin. Rampungin skripsi, rampungin novel, make a friend with stranger dengan berkunjung ke tempat baru.

Tapi rasanya seperti masih ada yang kurang. Kurang greget. Iya semacam kangen sama aura ambisius dulu, ketika memperjuangkan sesuatu dengan menggebu-gebu. Nyelesain sesuatu sampai begadang dan jadi penghuni tetap perpustakaan. Atau apapun itu yang bikin 24 jam dalam sehari terasa terlalu sedikit.

Pernah ga sih kamu ngerasa kalau hidup menjadi terlalu mudah? Kamu selalu memilih jalan yang aman yang ngebikin apapun menjadi mudah. Pernah ga sih ngerasa ngedapetin apapun adalah hal yang ga sulit? Karena kamu tahu kemampuanmu pun orang-orang di sekitar kamu bisa memudahkanmu?

Iya, pernah ga kamu di titik searogan itu?

Sepertinya, aku lagi di tahap itu.

Pernah ga kamu di fase berontak pingin ngelepasin simpul di tiap anggota gerak tubuh? Emang kasat mata sih, tapi ya emang gitu. Rasanya seperti ngga sabaran, ngga enjoy di fase yang menjemukan. Pinginnya cepet-cepet ke fase selanjutnya.

Pernah ga kamu di titik ingin memberikan sebanyak-banyaknya dan menerima sesedikit-sedikitnya tapi malah ga berdaya? Malah sebaliknya? Pernah ga kamu di tahap ingin orang lain menggantungkan hidupnya di diri kamu, mengandalkan kamu, tapi kamu sendiri masih mikir-mikir untuk memanage urusan sendiri. Bahkan, malas untuk intervensi sama urusan orang lain.

Di sisi lain, kamu mengkhawatirkan sesuatu yang kamu yakini lebih besar dari yang kamu tahu. Di sisi lain, kamu berusaha menyiapkan diri untuk siap menopang itu. Tapi di sisi yang lain pula, kamu sadar belum kunjung siap. Kamu malu sama umur. Kamu malu sama orang-orang seumuran—bahkan yang lebih muda, karena  mereka bisa bertanggung jawab ketika mengambil risiko seperti itu. Iya, ternyata kamu pengecut.

Pernah ga sih kamu, memilih menghindar dari hal-hal besar? Terus rasanya terlalu sering untuk mengeluh, makin parahnya jadi ga berani ambil kesempatan-kesempatan besar. Pernah?

Karena sepertinya, aku lagi di tahap itu.

Terus, kalau sudah dijejali dengan pemikiran-pemikiran seperti itu, bingung mau cerita kemana. Bingung mau berbagi ke siapa. Ntar kalo cerita, kesannya kayak ngeluh. Ah, males banget punya cap sebagai pengeluh gitu. Etapi, kalo dipendam sendiri juga ga enak. Rasanya sesak. Rasanya kayak ada beban kasat mata gitu. Punggung nopang gunung, kepala nampung berton-ton karang di laut, telinga kayak disumbat speaker, mata kayak melihat keberhasilan orang terus. Wah, parah. Makin ahli aja buat ga bersyukurnya. Hahaha.

Nah, semakin aku pikirkan. Malah timbul tanya seperti ini, “berada di tahap itu semua sebenernya wajar ga sih?“.

Semakin aku renungkan, jawaban yang muncul malah, “wajar-wajar aja kok”.

Ehem, jadi, emangnya kenapa kalau seseorang pernah di tahap itu?

Salah? Ga boleh? Ga wajar? Di luar batas?

Hum..

Bisa salah bisa ngga. Bisa boleh bisa ngga boleh juga. Pun bisa wajar bisa juga ngga. Hehe.

Gini deh, bisa disebut salah kalo ngga ada kelanjutan dari tindakan tersebut meskipun paham atas situasinya. Bisa ngga boleh, kalau terus-terusan berlarut pada hal itu. Bisa ngga wajar, kalau tidak mencoba keluar. Bisa salah, kalau tidak mau mendengar masukan orang lain. Bisa ga boleh dan ga wajar jika berlebihan.

Tapi bisa jadi tidak salah juga. Karena, yaudah. Iya, yaudah. Sebentar aja ga masalah kan? Kalau ga lama boleh-boleh aja kan? Ga salah karena mungkin ternyata kita memang butuh itu. Ternyata kita memang butuh fase-fase yang tidak nyaman di sementara waktu agar bisa melewati  fase yang lebih tinggi levelnya. Wajar saja, tidak masalah, karena kita manusia.

So, Fin. Just keep calm.
Its normal.
Its okay.
All iz well.



Wassalam



Yogyakarta,
Zulfin Hariani



270120171411

Komentar