Sore dan Zaman



Mengapa engkau begitu baik?

Sore datang setelah lama menghilang, namun Zaman tetap menyapa dengan bahasa yang menyenangkan. Sore tahu Zaman telah lama menunggu, tapi Sore terlalu malu atas pikirannya sendiri hingga tak mampu mendatangi Zaman.

Tapi engkau memang selalu menjadi baik.

Atas segala alpha yang Sore sengaja ataupun tidak. Atas segala pembelaan yang Sore coba bangun ‘tuk buat dirinya nyaman menjauh dari Zaman. Atau atas segala pendirian-pendirian yang Sore kokohkan untuk selalu menolak kebaikan Zaman.

Dan, engkau selalu saja seperti itu, menjadi begitu baik.

Sore menyalahkan diri tiada henti hari ini. Sore merasa begitu jahat. Teramat jahat karena tak membiarkan Zaman berbuat baik padanya. Sore menjadi merasa terlalu sombong. Sore menjadi merasa, tak pantas untuk diperlakukan dengan baik.

Seharusnya Zaman marah saja. Mencerca Sore dengan berjuta tanya atas alpha yang begitu lama. Seharusnya Zaman pergi saja, tidak usah merepotkan diri untuk menunggu begitu lama. Seharusnya Zaman membuat Sore terluka saja. Sakit yang menjadikan merah ataupun dengan sakit yang berbeda, bukan dengan sakit yang bahkan tak bernoda seperti yang Zaman selalu lakukan, luka yang tak berdarah, tapi tertanam di palung hati terdalam.

Nyatanya, Zaman tidak ingin Sore menghilang dalam dirinya. Walau terlalu banyak tanya yang terpendam, terjebak dan meneriaki dirinya dalam diam.

Karena apalah sepanjang Zaman tanpa sunset di tiap Sorenya?




Yogyakarta,



Zulfin Hariani
141520171641


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NB:

Nama tokoh terinspirasi dari karakter ‘Sore’ dari webseries Tropicana Slim (Istri dari Masa Depan) dan ‘Zaman’ dari novel Tere Liye (Tentang Kamu).

Komentar