Unconditional Friendship

Berpindah tempat. Menyelesaikan suatu tanggung jawab. Beradaptasi dengan lingkungan. Ikut serta dalam suatu kegiatan. Tak satu pun dari hal-hal tersebut yang dapat menghentikan diri ini untuk tidak berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya.

Bertemu karakter yang unik, susah ditebak, misterius, ramah, cuek, dan banyak lagi menjadikan ‘memaklumi’ menjadi opsi paling tepat untuk diterapkan. Berkesan? Tentu saja. Dalam jangka lama? Belum tentu. Ya, mungkin karena aku bukanlah tipikal orang yang ingin mengingat banyak hal. Cukup yang penting-penting saja. Hehe.

Then, someone said, “teruslah beramal sholeh, kita kan tidak pernah tahu amal sholeh kita yang mana yang ntar ngebawa kita masuk surga”.

Ungkapan itu terngiang-ngiang dalam tempurungku. Jadikan banyak kisah terflashback dalam reka adegan kecil di imaji ini. Halah. But, seriously, ingatanku memang lebih didominasi dari segi visual. Baru setelahnya audio, kemudian verbal. Duh, penting banget ga sih ini? Skip. Skip. 

Mungkin kalau Bilal bin Rabah tidak rutin mengamalkan sholat sunah wudhu, suara terompahnya di surga tidak terdengar oleh Rasulallah. Begitu pula kalau Abu Bakar Al Misk tidak melumuri tubuhnya dengan kotoran/tinja, sehingga ia bisa terlepas dari godaan wanita yang menjebaknya untuk maksiat. Pun dengan kisah nabi Yusuf AS yang dijebak Zulaikha, dikisahkan dalam Al-Quran sampai baju beliau ditarik dan robek kan yah? Tapi beliau oke-oke aja kalau urusannya fitnah dunia, lebih takut sama murka Allah SWT. Dan jika bukan tersebab itulah, beliau bisa jadi tidak dikenal sebagai seorang hamba yang mampu menjaga kesuciannya. Atau jika Khadijah tidak konsisten untuk wafaa pada Rasulallah, ibunda kita itu bisa jadi ngga terkenal sebagai istri yang paling dicintai Rasulallah.

So, ungkapan tadi, terdengar similar dengan ungkapan, “teruslah berbuat baik kepada orang lain, kita kan ga pernah tau sikap kita yang mana yang paling berkesan kepada dia untuk dijadikan penilaian atas kita”

Dua kalimat itu tetiba berulang, berkali-kali, secara terus-menerus dalam otakku beberapa waktu belakangan ini. Semakin berulang ketika seorang teman seangkatan menghampiri ketika aku bergegas untuk pulang.

Lokasi: Lorong lobi FISIPOL UMY

“Fin, besok aku ujian. Ga ada maksud lain, cuman mau ngabarin kamu aja. Kamu ga datang juga gak apa-apa kok. Tapi kalau kamu datang, mungkin besok jadi pertemuan terakhir kita. Aku sekalian mau pamit, soalnya mau langsung terbang ke Riau.”

Waktu itu, aku sedang buru-buru. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri perbincangan itu. Aku cuma kebetulan lewat lorong sih habisan, kebetulan dia juga baru keluar kelas. Makanya bisa papasan. Ada beberapa bangku di tepi lorong itu, seharusnya kita bisa sembari duduk saja ketika mengobrol, tapi aku lebih memilih berdiri dan sesekali melirik jam tangan. Duh, kalau aku ingat-ingat lagi, kok aku jahat yak. Ckck.

“Wah, selamat yah. Semangat lho! Besok aku full  agenda sebenernya, tapi ntar aku usahain dateng deh yah. Eh, aku udah uninstall BBM, tapi nomorku yang dulu ga pernah ganti kok. Hehe”

“Iya, Fin. Gapapa, aku cuma mau bilang terimakasih sudah mau jadi temanku selama ini”

“….” Aku malah terdiam. Cengok. Lalu dia melanjutkan.

“Maaf juga kalau selama ini ada sikapku yang tidak berkenan ya, Fin”

Oh, that face! Aku ga pernah melihat ekspresi dia yang seperti itu. Looks so sad. That voice tho, I can feel his tears stream down inside. I know, dats from his deepest heart.

“Lho, aku yang seharusnya makasih dan maaf ke kamu lho, Zal. Sudah baik dan sering kasi info. Maaf kalo ga bisa selalu bantu kamu yak. Biasa aja dong mukanya! Haha”

I try to make him cheers up. But YHA. looks like it doesn’t work at all.

“Kamu lho yang bantu aku dari semester awal buat tugas kelompok, minjemin buku, terus juga—“

“Heiii, its okay. Yaelah, selaw lah. Pokoknya semangat besok yak. Aku buru-buru nih. Assalamualaikum BHAY”

Aku ngacir. Ninggalin dia yang masih nyender di tembok depan ruang pengajaran dengan air muka menunduk.

Yas, I know right, I am cruel.

Lalalalalala~

Keesokan harinya, sorry to say, aku beneran lupa dia ujian. Hehehehe. Yaa karena aku emang full hari itu sedari pagi sampai sore. Aku baru sadarnya di malam hari. Dan setelah sadar bukannya ngechat dia duluan buat say sorry or something gitu kan, kumalah ngga ngapa-ngapain. Bener-bener ga ngirim even a single word. Yaudahsih. Gitu. Duh, si Fifin.

Hari itu berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya. So yeah, di step itu aku belum ngeh apapun. Belum ngeh kalo bisa aja itu hal yang berarti buat orang lain, muehehe. Yaudasi gitu kan? Toh aku uda bilang sebelumnya kalo hari itu aku full agenda. Dan firasatku pun bilang keknya kita bakal ketemu lagi deh. Entah kapan. Pokoknya bakal ketemu lagi. Dah gitu aja.

Aku jadi ingat, dulu dia pernah ke Lombok. Dan waktu itu aku memang sedang di Lombok juga, libur semester. Dia di Mataram, di hotel Lombok Raya. Dia sudah ngabarin sejak beberapa waktu sebelumnya sih. But yeah, so sorry to say dat I am not pay my attention on it. Dia ngabarin waktu di bandara, juga waktu di hotel, but, yaudah. Karena waktunya juga terbilang singkat dan kondisiku saat itu tidak memungkinkan, aku ngga nyamperin. Hahahaha, duh, kalo sekarang diingat-ingat berasa jahara bet emang. Ampun yaa Gusti, teman macam apa aku ini. Hahaha.

Dia emang gitu sih orangnya, aktif banget beroganisasi terlebih eksternal kampus. Dia seorang Event Organizer, link dia bertebaran di penjuru Indonesia. Halah. Yaa itu, kerjaannya keliling Indonesia mulu. Jadi ketua di sana-sini. Seingatku, dulu dia pernah jadi ketua di..duh, lupa namanya. Wkwkwk, pokoknya suatu himpunan yang memberdayakan anak-anak gitu.

Ketika aku akrabnya sama mas-mas percetakan ataupun guide di tempat wisata, dia malah main sama Sultan Jogja, Bupati, Rektor. Ketika orang-orang susah ngantri beli tiket event/konser tertentu, aku bisa dapet free dari dia. Atau ketika orang-orang susah cari info volunteer dan lowker di jogja, dia malah bilang, “kamu masuk aja langsung daftar dan minta wawancara, ntar bilang disuruh Rizal”. Atau pernah terakhir dia nanya,

“Fin, punya buku Krisis dan Paradoks Film Indonesia karya Garin Nugroho ga?”

“Punya.”

“Pinjem dong, ntar aku ke kos yah”

“Oke.”

Sesampai dia di kos.

“Isi bukunya apa, Fin? Aku mau bedah buku nih. Ngobrol ringan gitu”

“Baca aja yang udah aku garis-garisin, ada note-notenya juga. Itu udah intinya kok”

“Okedeh. Eh, pernah ketemu Mas Garin ga? Penulis buku ini”

“….”

Iya, dia mah gitu.

Buku yang banyak dicari orang mungkin aku emang punya. Iya, bukunya doang. Tau pengarangnya dari biodata di bukunya doang. Tapi dia? Ketemu langsung kongkow sama yang nulis langsung. Emang beda level sih.

Sedikit pembelaan, di semester awal kuliah, aku memang lagi banyak-banyaknya ketemu orang baru juga sih. Bingung mau berteman sama siapa aja. Haha. Dan akhirnya, aku perlakukan sama semua, hehe. Oke, ini tidak terdengar seperti agak membela. Skip. Skip.

Dan dia, mungkin bukan tipikal orang yang sering ke kampus. Semacam kampus adalah pelengkap dari kegiatan-kegiatan penting dia yang lainnya.

Nah, sekarang kembali ke beberapa hari yang lalu..

Aku ngga pernah tahu bagaimana dia melihat aku, sampai akhirnya seminggu kemudian setelah kejadian ga dateng ke ujiannya itu, aku ketemu dia lagi di kampus. Hari itu hari terakhir buat mahasiswa-mahasiswa kelasku UAS. Sebelum ujian, yaa mahasiswa jadinya kan pada ngerubungi aku tuh. Ngajak diskusi beberapa materi. Yaudah, aku ladeni dong.

Eh, si Rizal lewat,

Aku lihat sih, tapi yaa mau gimana? Sikonnya lagi rame gitu kan yak. Yaudah, dia lewat aja gitu. Aku bergumam, “Tuh kan, yang kemarin kata dia bakal jadi pertemuan terakhir nyatanya ketemu lagi. Hahaha, palingan bentar lagi dia nyamperin”

Dan bener, dia nyamperin. Hahaha. Yaudah, ikutlah dia di tengah-tengah diskusi sama mahasiswa.

Kelar diskusi.

Sorry yak kemarin ga dateng”

“Ya gapapa, Fin”

“Tapi kok kita ketemu lagi? Haha. Katanya kemarin kelar ujian langsung cabut ke Riau”

“Iya, aku mau langsung cabut sebenernya. Tapi masih ada urusan di Jogja. Uda dijemput juga ini sama menterinya, mereka udah di Jogja”

Waktu itu Rizal sambil ngebawa plastik. Isinya dua eksemplar skripsi dia.

“Aku lihat skripsi kamu dong”

“Oh lihat aja”

Aku buka tuh skripsi. Dia udah mulai cerita apa aja kejadian selama dia ujian, aku dengerin sambil buka per lembar. Dan berhenti di lembar awal yang menceritakan perjalanan kuliahnya.

Aku baca, di sana bagaimana perjuangan kuliah dia. Betapa dia pingin banget kuliah, waktu daftar kuliah aja menempuh 2 jam lebih dari rumahnya pakai sepeda ontel buat ke kampus. Dia lahir dari kedua orang tua yang ‘luar biasa’, aku tertegun. Dia bercerita betapa kedua orang tua yang (maaf) tuna netra dan berprofesi sebagai tukang pijat dapat mempunyai seorang anak yang begitu hebat. Sungguh menginspirasi. What a struggle, dude! Duh, apalah aku dibanding dia. Lalu, aku berhenti membaca. Melihat dia. Haiyah, uda berapa tahun kenal dia aku ga pernah tahu apa-apa tentang ini anak. Gimana latar belakang atau apapun tentang dia kecuali apa-apa yang sebatas dia ceritakan dan yang aku lihat.

Terlebih lagi, saat membuka halaman persembahan. Ada namaku di sana.


I am touched.

Dari sekian banyak orang yang dia kenal dan menganggap dia ada di angkatan kami, hanya 4 nama yang dia tulis sebelum kalimat ‘dan teman-teman Public Relations 2012’. Ada namaku di sana.

Aku merasa gagal sebagai seorang teman.

“Wah, Zal, ada namaku!”

“Yaiyalah, kamu kan temanku. Ya aku anggap kamu temanku, ga tau deh kamu”

Mak-JLEB.

“Duh, kok aku jadi sedih gini ya, Zal? Rasanya aku ndak tau apa-apa tentang kamu setelah baca beberapa lembar awal barusan. Yang aku tahu ya kamu yang ada di depanku sekarang. Yaudah, gitu”

“Hahaha, iya Fin. Kamu mah emang gitu dari dulu. Mana pernah peka!”

“Eh sialun! Hahaha”

“Hahahaha”

“Ku masuk kelas dulu yak”

“Nih, cokelat. Cemilin di dalem kelas sono.”

“Wih, cokelat Malaysia. Makasih yak. Malah kamu yang kasi, harusnya aku. Hahaha”

“Hahaha”

Kemudian, aku pun masuk kelas.


Dia kembali berjalan sendirian.

Kemana-mana menyusuri kampus sendirian. As always. Solo fighter emang.

Pernah ga sih kalian menganggap seseorang adalah teman yang ‘dekat’ walau intensitas ketemunya bisa dibilang jarang banget? Bahkan untuk sekadar chat atau apapun jenis komunikasi itu. Aku bahkan ga punya nomor Rizal. Ga follow akun-akun sosmed dia. Duh, ketahuan. Maafkeun. Wkwk. Cuma temenan di BBM ajah malah, itu pun gegara tugas zaman dulu. Dan aku sudah uninstall BBM sekarang. Hahaha. Walau sometime suka install BBM lagi sih, kalau ingat punya kontak someone gitu yang cuma ada di BBM. Nah tapi untuk orang-orang seperti ini, kalo ketemu dimana pun, kita mesti tetep bisa ngakak bareng. Tetep bisa nyambung entah mau bahas apapun, semacam bahan omongan ga habis-habis  gitu. Etapi, kemarin akhirnya aku punya kontak WA dia sih. Dia masih save nomorku, aku pun sepertinya punya dulu sebelum ganti hape. Hehe. Dan ternyata, itu semua bukan tentang sebanyak apa yang kita saling berikan ataupun terima, toh seberapa pun kuantitasnya, kita bisa saling menerima sebagai teman. No more, no worry. Mungkin ini yang disebut unconditional friendship.

Tbh, aku nyaris lupa punya teman bernama Rizal. Hahaha. Kalo dia baca, mungkin aku sudah ditenggelamkan bareng konconya si Bu Susi. Ampun, Zal. But, yeah. Mungkin aku bukan tipikal orang yang mampu mengingat semua orang, harus ada kejadian-kejadian tertentu—dan cukup membekas, yang kemudian bisa buat aku ingat seterusnya. Hehehe. But, you, now, sepertinya akan cukup membekas. Terlebih sudah ada cerita tentang kamu di blog ini. Hahaha. Yaa kalo pun aku lupa suatu hari nanti, terus tetiba iseng baca tulisan ini kan jadi ingat lagi gitu lho maksudnya.

I’ll keep this memory. Kalau aku punya teman yang merasa pernah tidak dianggap. Jir, sadees. Hahaha. Tapi sebenernya, aku selalu anggap kamu ada kok, Zal. Seandainya hari itu kita ga satu kelompok tugas MPK, atau seandainya aku ga pinjemin kamu buku yang sudah-sudah, atau mungkin kalau kita berdua saling gengsi untuk menyapa duluan. Mungkin kita ga saling kenal sekarang. Hahaha. Si Rizal ini orangnya baik, setia kawan, suka menolong. Dulu pernah ntraktir makan juga di kantin yang sekarang udah digusur. Aku masih ingat kok. Hehe. Keep shining yak, Pak! Kalau kamu tetap konsisten dengan cara kamu berjuang sekarang sampai seterusnya, adalah sebuah kehormatan untukku sebagai saksi perjalanan orang sukses untuk Indonesia kelak. Merdeka!

See you when I see you~




Yogyakarta,


Zulfin Hariani
070520171538


Komentar

  1. wow, what a great stroy. kyknya perlu meningkatkan ingatan fin :3

    BalasHapus

Posting Komentar