Where is home?


Maka ia adalah rumah. Ketika ia yang kau ingat kali pertama, saat hadapi kepingan yang ia suka pun benci. Ia adalah rumah, yang mampu bawa ingatan kembali untuk berbagi.

Maka ia adalah rumah. Ketika ia yang kau inginkan perhatiannya di kala terluka. Pun ketika ia tersakiti, ingin kau balut perban memarnya. Ia adalah rumah, ketika ia ingin sendiri namun kau tetap mengawasi. Ia adalah tempat kau untuk datang setelah sejauh apapun pergi.

Maka ia adalah rumah. Ketika ia tak mampu kau lupakan tiap sudut dan sisinya, kokoh dindingnya, hangat orang-orang di sekitarnya. Iya, ia adalah rumah. Ketika orang-orang datang lalu kau layaknya penjamu mempersilakan. Pun ketika orang lain bertanya, kau bisa tunjukkan jalan.

Maka ia adalah rumah yang luas. Dengan segala yang ada pada dirinya beserta ruang keluarga tak terbatas, ruang makan dan minum yang beraneka ragam, ruang bersantai yang tidak pernah habis, ruang bermain yang super mega. Dia adalah rumah, ketika kau mampu menduga menemukan apa di lorong gang tersempit. Iya, ia adalah rumah. Tempat kau memijak tanah ketika memulai kisah pertemuan dengan orang-orang tak terduga. Ia adalah rumah yang tak buatmu takut berjalan sendirian lalu tersesat. Ia adalah rumah yang kau tahu pasti, bahwa sejauh dan selama apapun kau akan meninggalkannya, ingatan takkan mampu membawamu pergi. Karena kau tahu satu hal; rumahmu tidak akan pernah mengkhianatimu.

Maka rumah juga adalah citarasa. Ketika ia tidak sekadar wujud yang terlihat, namun sari rasa yang penuh kenangan, menjemput ingatanmu pulang. Dan rumah juga adalah segelas dahaga, yang terpenuhi ketika kerongkongan mampu antarkan bulir menjadi lega. Iya, karena rumah juga berbicara tentang kesesuaian selera.

So, where is home?

Nyatanya, rumah tak melulu mengenai seonggok bangunan tempat kau tinggal dan dibesarkan. Perjalanan mengajarkanku, bahwa rumah tak hanya satu, ia jamak.

Waktu membawaku menemui rumah-rumah baru. Bukan, bukan karena aku merasa rumah yang lama tidak nyaman lagi, atau karena aku terlampau terlena akan dunia di luar sana, aku hanya menjadi tidak terlalu ambil pusing mengenai tempat senyaman ‘rumah’ di tempat lain. Aku merasa memiliki BANYAK SEKALI rumah. Membuatku merasa bebas, mampu keluar lepaskan langkah dari kekangan bilik-bilik yang pernah kubuat sendiri. Membuatku mudah merasa nyaman dan terlindungi. Membuatku melihat dari sisi-sisi yang tak sama.

Rumah adalah teman, ketika kau merasa nyaman dan percaya berbagi selayaknya keluarga. Padahal ia adalah orang asing yang berbeda alur gen secara biologis denganmu. Namun ia membantu, menemani, berbagi cerita, memperlakukan dengan baik, walau tak jarang juga merepotkan. Dia bahkan bisa menangis untukmu, pun mau menjalani senang dan susah ketika kamu benar-benar jauh dari rumah.

Dan ternyata, kota juga adalah sebuah rumah. Ia adalah tempat yang bisa kau rasakan berat ketika pergi, walau bukan untuk selamanya. Ia adalah rumah, dengan ruang keluarga raksasa. Karena tiap sudut jalan, tiap tinggi-landai bangunan, memiliki kisahmu bersama orang-orang rumah pilihan. And now, on this city, I truly feels like I'm in home, seperti tidak ingin pergi jauh yang lama. Seperti dipanggil terus menerus untuk pulang lagi. Tiap gang kecil, tiap masjid, tiap cafĂ©, tiap tempat berbelanja, tiap perpustakaan, fasilitas umum, pasar, mall, bioskop, lamongan, candi-candi, kerlap-kerlip lampu di alun-alun, sekaten, pengamen, takjil gratis, biji-biji kopi, kunjungan artis-artis ibu kota, dan banyak lagi! Oh well, all of them just fulfill my life’s rhythm. So much warm.




..because home is not (always) about the building, but also the feeling. That’s why everyone has their own reason to go home.




Yogyakarta,


Zulfin Hariani
180620170320


Komentar

Posting Komentar