Sebuah Cangkir




Sebuah cangkir di etalase, telah lama kosong
Seratus hari terlewati, pun secangkir kopi belum lagi tersaji
Seorang tuan yang kerap menyeruput di tepinya, telah lama menghilang
Bersamanya, turut serta pahit manis kenangan terbawa pergi

Sebuah cangkir di etalase, telah lama kosong
Seratus hari ternyata begitu cepat, tidak pernah secepat ini
Rasa-rasanya, baru kemarin kepulan uap mengambang di atas lingkarnya
Rupa-rupanya, praduga secangkir setiap pagi akan untuk selamanya
tidak pernah benar-benar selama ‘selamanya’


Sebuah cangkir di etalase, telah lama kosong
Pastilah ia pernah begitu paham arti dari berbagi
Begitu paham arti kehilangan dan merindu
Juga, begitu paham arti ditinggalkan

Sebuah cangkir di etalse
Kini kehilangan tuannya
Tak pernah lagi ia menjadi begitu berharga
Karena apalah arti sebuah cangkir jika ia kosong?
Karena, apalah arti sebuah cangkir bila sudah tak bertuan?



Yogyakarta



Zulfin Hariani
021220170545



——
Untuk pamanku, yang kerap membagikan kopi dari cangkirnya ke cangkirku.
Aku tahu pasti kau tetap menepati janjimu, untuk datang melihatku menggunakan toga.
Meski kini tatap kita tidak akan pernah bertemu lagi, di dunia.

Komentar