Teman Tak Bernama



Assalamualaikum!

Aku percaya setiap orang punya alasannya sendiri untuk hadir di hidup kita. Entah untuk memberikan pelajaran hidup, perspektif yang berbeda, mengajarkan rasa, walau tidak selalu bersama kita di jangka waktu yang lama.

Aku bertemu banyak orang. Bertemu teman, temannya temanku, temannya dari teman temanku, bahkan orang-orang yang akrab namun tak pernah tahu dia bernama siapa. Iya, mereka adalah teman-teman tak bernama.

Bertemu dengan mereka, membuatku berpikir bahwa, pada dasarnya setiap orang itu baik—setidaknya dengan orang baik, setiap orang memiliki sisi yang baik. mungkin tidak sebanyak harapan kita, namun setidaknya, ada sesuatu dalam diri manusia yang membuat mereka ingin mencoba untuk menjadi orang baik.

Thanks to Allah yang sudah mempertemukan aku dengan orang-orang baik tersebut. Orang-orang yang dari mereka, aku dapat memahami beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah kupikir akan seberpengaruh ini dalam pola pikirku. Mungkin tidak banyak yang mereka bisa “ambil” dari apa yang aku coba sampaikan pada mereka, tapi secuil apapun itu, percayalah, aku mencoba untuk setidaknya bisa membuat perubahan baik di dalam hidup kalian.

Mungkin terdengar konyol. Tapi aku mulai memflashback dan belajar beberapa hal dari orang asing tak bernama belakangan ini. Aku belajar tentang rasanya diperhatikan oleh ibu-ibu penjual capcay. Dia adalah ibu capcay yang biasa aku kunjungi semasa menjalani masa KKN. Itu sekitar tahun 2015 lalu. Karena tempat berjualannya menuju jalan pulang dari lokasi posko KKN, jadilah aku sering mampir disana. Biasanya, aku kesana bersama Tian dan Aziz. Setiap makan di sana, pesananku selalu sama. Capcay goreng pedas, sayurnya dipotong kecil-kecil, nasi setengah, minumnya air es. Kami hanya bertegur sapa seperlunya, lalu kemudian aku mulai tak datang lagi setelah KKN usai.

Can you imagin dat? It’s almost 3  years ago.

Aku ingat di suatu malam terakhir sebelum balik ke Lombok, aku datang lagi karena rindu. Adakah rasa capcaynya masih sama? Tak terpikir tentang apakah ibu capcay masih mengingatku atau tidak. Karena jika tidak, itu sangat wajar. Hampir 3 tahun, dia pasti telah bertemu banyak orang setiap hari. Pun aku, sudah berpenampilan “berbeda” tidak seperti masa KKN dulu. Kacamata berbeda, cara berbusana yang berbeda, pun kerap menggunakan masker. Maka, kupesan menu yang kurindukan,

“Bu, capcay goreng yang pedas yah. Nasinya setengah, minumnya air es.”

Dan ternyata rasa capcay itu tak berubah banyak. Untuk urusan rasa makanan yang aku suka, biasanya aku ingat. Ini serius, untuk urusan kekonsistenan rasa makanan, sepertinya lidahku ikut membantu dalam mengingat. Contoh lain, aku bisa membedakan rasa ayam goreng chrispy Olive di Jogja berdasarkan cabangnya. Seharusnya rasa mereka sama, tapi jika dibanding dengan rasa Olive di jalan Wirobrajan dan yang di jalan Rindang, aku lebih suka yang di jalan Rindang. Karena tidak lebih asin, berminyak, dan renyah. Hehe. Oke, kembali ke capcay. Kali ini, kuah capcay yang kupesan rasanya tidak sekental pada masa KKN, but it’s okay. Saat itu, aku berkunjung bersama Tian, biasanya kami datang bertiga dengan Aziz juga. Dan kuingat pula, saat itu sedang ada kejadian pembeli yang mengcancel pesanannya yang padahal banyak, bapak capcay ngomel-ngomel. Hehe. Semakinlah aku tak kepikiran, bahwa mereka tidak mungkin mengenal kami. Pasti tidak fokus. Namun ketika membayar seusai makan,

“Mbak yang dulu sering kesini yah? Tadi mbak pesan capcay goreng pedas kan? Biasanya Mbak minta sayurnya dipotong kecil-kecil lho. Tadi saya sudah potongin kecil-kecil”

It’s like…BOOM!

Aku bahkan lupa bilang kalo minta sayurnya dipotong kecil-kecil saja. Lol. Tapi ternyata, setelah banyak waktu yang terlewat sejak zaman KKN, ibu capcay masih mengingatku. You know? I am speechless at that time. Rasanya kek pengen pelukin ibunya :(

Kejadian yang lainnya? Masih ada!

Jadi beberapa waktu yang lalu waktu sempat kembali ke Jogja. Aku menyempatkan diri untuk ke Sunmor. Tempat di mana biasanya aku berburu makanan yang padahal ngga sehat sih. Wkwk. Yang wajib aku beli tentu saja, takoyaki dan sosis bakar. Fardu’ain. Dan selalu di tempat yang sama, sampai—ternyata, ibunya hapal sama diriku. Padahal, sudah nyaris sebulan lebih ga nyanmor—terhitung dua minggu aku sudah di Pare juga. Nah, jadi waktu ke sana, seperti biasa aku pesan sosis bakar yang pedas dan takoyaki.

“Mbaknya udah lama ga kelihatan ya” si ibu membuka perbincangan.

Aku agak kaget, karena dia masih ingat. Dari sekian banyak orang yang mengantri jualannya tiap Ahad, pun aku sudah lama ga kesana, dan lagi, ya, aku sedang pakai masker. Lol.

“Ibu masih ingat saya?”

“Ingat dong. Mbak kemana aja kemarin?”

“Saya ke Pare, Bu. Main sambil belajar. Hehe”

“Oh yang belajar bahasa inggris itu ya?” kemudian perbincangan kita ga berhenti-henti. Beliau malah curhat tentang anaknya yang padahal dia harapkan mau rajin kursus gitu sejak kecil. Pun tentang beberapa hal lainnya. Yang berujung kita tukaran nomor handphone. Dan ketika aku menulis catatan ini sekarang, aku sudah lupa lagi nama ibunya siapa kalau mau aku cari di kontak. Hehe

See?

Dua kisah di atas adalah yang paling aku ingat. Menyoal ibu-ibu di bandara, stasiun, dan lainnya adalah sebagian kecil yang kadang kalau aku ingat-ingat lagi rasanya “semenyenangkan itu yah ternyata kalau orang masih mengingat dan mau menyapa kita?” *kemudian lagu remember me OST Coco terngiang

Untuk itu, mulai sekarang akan aku coba lagi untuk tidak melupa sesiapapun. Walau tidak bisa kupastikan akan beneran ingat terus sih. But, yhaa I’ll try. Dan untuk alasan tetap menulis, mungkin dengan begini juga suatu hari aku akan diingat. Pun juga aku—bisa saja—menjadi lupa atas diri sendiri, maka aku bisa melihat diriku lagi ketika membaca ini.

Well, apa pesan moralnya? Ah, sepertinya ini masuk dalam kategori menulis random. Wkwk. Baiklah, tak ku tuliskan saja sekalian apa pesan moralnya. Lol. Karena bisa saja ketika diriku yang berbeda membaca ini suatu hari nanti, dia mendapatkan pesan yang tak sama. Yang kuharap, dia tak semakin melupa. Yhaaa, gitu dulu deh ah. Hehe.


Wassalaam!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

…sebuah tulisan yang kudedikasikan untuk diriku
di masa depan sana



Bermis


Zulfin Hariani
260720182312

Komentar