Meja Makan

Foto hanya pemanis. hehe



Malam ini, aku makan sendiri lagi. Di sebuah meja makan kayu berbentuk oval, meja lama yang turut berpindah setiap kami berganti rumah.

Tak apa. Tak masalah makan sendiri. Sudah terbiasa. Hanya saja, belakangan ini beberapa ingatan kecil kerap mampir di tempurung otak kiri. Mengingat meja yang kupakai tak pernah berganti, namun aktifitas di atasnya semakin hari semakin berubah.

Dulu, semua makan di meja makan. Mama, bapak, adik-adik.  Semacam tradisi menyambut rizki setiap hari. Nasi, lauk pauk, air minum, semua di atas meja. Kami duduk melingkar, bergantian mengambil nasi dan lauk, bercerita banyak hal di atas meja makan. Sering, menunggu bapak pulang dulu, barulah makan. Mama juga, menunggu anak-anaknya pulang sekolah dulu, barulah makan. 

Selalu ada syukur di atas meja makan. Alhamdulillah karena masih diizinkan Allah berkumpul dan makan bersama. Alhamdulillah seberapapun lauk-pauk yang tersedia dapat mencukupi kita berlima.

Rencana-rencana besar juga kerap dibicarakan di meja makan. Rencana liburan sekolah, rencana membeli baju lebaran, rencana berkuliah ke luar pulau, hingga rencana bapak dipindahtempatkan ke kota seberang.

Tidak masalah untukku jika kantor bapak berpindah jauh di sana. Jika memang harus, yasudah. Asalkan beliau aman-aman saja. Tidak kehujanan dan kepanasan seperti dahulu ketika kita hanya memiliki sebuah motor sederhana. Mudik ke rumah embah berlima, aku di depan, si Nini digendong mama dan Omen duduk di antara Mama dan Bapak. Jika hujan, bapak pakai jas hujan kelelawar. Kita semua bersembunyi di dalam jas hujan tak dapat melihat sekitar. Eh tahu-tahu sudah sampai saja. Belum lagi drama sandal jatuh setiap kitanya ketiduran di perjalanan. Hingga akhirnya mama berinisiatif jika pulang malam, sandal dilepas dulu, masukkan dalam tas. Mama tenang, sandal aman, kitanya pulas di jalan. Hehe. Bertumbuh kami semakin besar, tak mungkin lagi bonceng lima kalau ingin mudik. Alhamdulillah, Allah berikan rizki mobil, yang kemudian menjadikan kami lebih tenang jika dipakai bekerja oleh bapak dengan jarak tempuh yang jauh. Walau konsekuensinya, makan di meja makan tidak lagi berlima. Bapak punya meja makannya sendiri.

Tak dapat dielakkan, satu-satu dari kami mulai punya rutinitas lain ketika waktu makan tiba. Satu-satu mulai pergi dan menjalankan rencana yang pernah disetujui di atas meja makan.  Bapak ke kota seberang dan hanya bisa pulang beberapa kali tiap minggu, pun kami, anak-anak yang disetujui  kuliah ke luar pulau, mulai menemukan meja makan lain bersama orang-orang baru. Orang-orang yang mungkin juga meninggalkan orang-orang di meja makan terdahulunya.

Ah, tapi itu sudah cukup lama berlalu. Sekarang, aku sudah kembali lagi dirumah. Makan di meja makan seperti yang sudah-sudah walau hanya sendirian. Tak apa, sungguh tak apa. Hanya saja, makan malam kali ini aku menjadi menerka-nerka, selama bertahun-tahun kami tinggalkan, sudah sejauh mana mama  terhanyut mengingat itu semua sendirian di meja makan? Betapa ingatan adalah tempat pulang yang paling melelahkan.

Ya, ingatan tidak pernah membuat raga kita benar-benar pulang. Namun jiwa selalu tahu arah ke rumah. Rindu tidak selalu berarti ingin kembali ke masa yang tak terlupakan. Tapi menjadi bagian ingatan tetaplah hal yang berharga. Moment mungkin tidak dapat terulang kembali, tapi percaya saja, Tuhan selalu punya cara membayar lunas kerinduan yang terasa.

Kini, memang, meja makan tidak seistimewa dulu. Walau kami sebagai anak-anak pun bapak pulang, kita tidak selalu makan bersama di meja makan. Jika lapar, maka makan saja. Kapan saja, tak harus saling menunggu. Terserah mau duduk di mana. Entah kamar, ruang tamu, ruang tengah, depan TV, bebas. Jika tamu bapak datang, maka makanlah bapak bersama tamu di ruang tamu. Jika teman-temanku yang datang, maka makanlah kami di berugak (sejenis saung) halaman rumah. Maklum, anak muda lebih suka ruangan terbuka dan bebas. Hehe. Toh, tidak ada yang salah dengan tidak lagi makan di meja makan. Kita masih di bawah atap yang sama. Meja makan tak lagi seluas kayu oval di ruang makan. Lambat laun kami justru menyadari, seluruh sisi rumah adalah meja makan sejati.



Bermis 2


Zulfin Hariani
261120182022

Komentar